Selasa, 22 Oct 2019
radarsolo
icon featured
Klaten

Pengalaman Ketua KPU Klaten Kartika Sari Handayani selama Pemilu

24 Mei 2019, 15: 10: 59 WIB | editor : Perdana

TOTALITAS: Ketua KPU Klaten Kartika Sari Handayani.

TOTALITAS: Ketua KPU Klaten Kartika Sari Handayani. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

Usai dilantik menjadi Ketua KPU Klaten, Oktober 2018, tugas berat menanti Kartika Sari Handayani. Mulai dari menyiapkan tahapan pemilu, hingga proses penghitungan suara. Tantangan apa saja yang dihadapinya?

ANGGA PURENDA, Klaten

PENETAPAN hasil pemilihan presiden (pilpres) dan pemilihan legislatif (pileg) telah ditetapkan KPU RI. Kendati demikian, kesibukan Ketua KPU Klaten Kartika Sari Handayani tak kunjung berkurang. Sebab dia masih memiliki tanggung jawab menyelesaikan verifikasi sistem informasi penghitungan suara (situng) untuk pemilihan DPR RI. Meski seluruhnya formulir C1 telah terpindai.

Kesibukan Kartika sejatinya sudah terlihat sejak pertama kali ditetapkan sebagai Ketua KPU Klaten, Oktober 2018. Mulai dari penetapan daftar pemilih tetap (DPT), menyiapkan logistik, hingga penghitungan suara. Tantangan pertama, yakni bekerja dengan para komisioner yang baru. Dibutuhkan sinergitas dalam melangkah.

Memang, Kartika sudah jadi bagian dari KPU Klaten sejak 2013. Sebagai komisoner divisi sumber daya manusia (SDM) dan urusan rumah tangga. Pengalaman ini membuatnya hafal luar dalam terkait ritme kerja KPU Klaten.

”Semuanya menjadi tanggung jawab penuh Ketua KPU, meskipun sebenarnya ada komisioner yang punya tugas masing-masing. Tetapi waktu itu kan kita belum saling mengenal dan belum pernah satu tim. Sehingga interaksi dengan para komisioner pun lebih intensif,” ujar wanita 41 tahun ini kepada Jawa Pos Radar Solo di ruang kerjanya, kemarin (23/5).

Bekerja dengan para komisioner yang baru jadi tantangan tersendiri bagi Kartika. Langkah pertama, yakni membangun komunikasi intensif antarkomisioner. Tantangan lain menghampiri saat dia harus menyiapkan gelaran pesta demokrasi tepat waktu. Padahal kedatangan logistik pemilu seperti surat dan kotak suara cukup mepet. Awalnya hanya melibatkan 300 petugas pelipat, sampai harus ditambah.

”Pernah saya menunggu logistik surat suara DPRD kabupaten hingga Subuh sekitar pukul 04.00. Baru pulang rumah setelah memastikan logistik sampai ke KPU Klaten. Hanya istirahat sebentar, sebelum akhirnya masuk kantor lagi pukul 07.30,” kenang Kartika yang tinggal di Perumahan Griya Prima Timur, Desa Belangwetan, Kecamatan Klaten Utara ini.

Kendati kelelahan menerpa, namun Kartika tetap menikmati pekerjaannya. ”Dari seluruh tahapan, yang paling membuat saya down ketika ada TPS (tempat pemungutan suara) yang kemasukan plano DPR RI dari dapil lain. Tidak memungkinkan mengecek satu per satu, karena jumlahnya banyak. Apalagi waktunya mepet. Tapi akhirnya bisa diatasi dengan aturan yang ada,” bebernya

Kartika tidak mengenal kata libur. Selalu berada di kantor tiap hari. Imbasnya, waktu bersama keluarga tereduksi. Beruntung, dua buah hatinya Irfan Ginting Prabowo, 13, dan Luthfi Alfian Adhi Prabowo, 8, bisa memaklumi. ”Sesekali saya temani makan bersama atau nonton biskop,” ujarnya.

Ke depan, akan ada evaluasi dari seluruh tahapan pemilu serentak ini. Evaluasi akan dilakukan secara berjenjang. ”Harapannya bisa menjadi perbaikan untuk penyelenggaraan pemilu selanjutnya,” ucapnya. (*/fer)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia