Rabu, 19 Jun 2019
radarsolo
icon featured
Features

Mahasiswa Asing Terkesan Suasana Ramadan di Tanah Air

24 Mei 2019, 13: 25: 59 WIB | editor : Perdana

MERANTAU: Ammusa Immarudin Kholawalid Akane ditemui di UNS.

MERANTAU: Ammusa Immarudin Kholawalid Akane ditemui di UNS. (SEPTINA FADYA/RADAR SOLO)

Share this      

Kenikmatan menjalani puasa Ramadan di Indonesia tak hanya dirasakan oleh muslim Tanah Air. Muslim dari negara lain pun merasakan hal sama. Mereka terkesan dengan budaya berbagi tajkil, Lebaran hingga bagi THR

KENYAMAN puasa juga dirasakan oleh sejumlah mahasiswa asing yang menempuh studi di Kota Solo. Salah satunya Ammusa Immarudin Kholawalid Akane, mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) asal asal Benin, Afrika Barat.

Ramadan tahun ini kali kedua dia jalani di Indonesia. Musa, sapaan akrabnya, terkesan dengan suasana Ramadan di Kota Bengawan yang tidak tidak dia jumpai di negara asalnya.

"Di negaraku tidak seramai di sini. Kalau di sini banyak sekali yang berjualan makanan setiap sore. Share food hanya ada di masjid saja. Tidak ada yang di pinggir-pinggir jalan,” kata Musa ditemui di International Office UNS, kemarin (23/5).

Rumah-rumah penduduk di Benin setiap sore selalu memasak dalam porsi yang lebih besar. Tidak hanya untuk keluarganya sendiri, tapi juga dibagikan ke orang-orang yang melintas di depan rumah.

"Kalau ada orang yang lewat, kami bagikan makanan kepada mereka. Bagi kami berbagi dengan sesama adalah bentuk rasa syukur atas rizki yang didapat,” ungkapnya.

Tidak ada menu khas Ramadan di sana. Saat waktu berbuka tiba, orang Benin hanya berbuka dengan buah kurma. Tidak ada es buah atau kolak seperti halnya di Indonesia. Musa pun baru merasakan dua menu tersebut saat berada di Solo.

”Di sini ada banyak buah. Di negaraku orang-orang tidak suka buah. Mereka langsung makan besar setelah makan kurma. Bukan makan buah terlebih dahulu," sambungnya.

Namun demikian, ada beberapa hal kesamaan budaya antara Ramadan di Indonesia dengan Benin. Mulai dari sekelompok orang yang bertugas membangunkan warga untuk bangun makan sahur. Mayoritas dari kelompok ini adalah kalangan anak-anak. Mereka akan berjalan dari rumah ke rumah membuat suara dan panggilan sahur. ”Sama seperti di sini, sahuur.. sahuurr.. Seperti itu,” katanya.

Tradisi bagi-bagi uang Lebaran atau tunjangan hari raya (THR) pun juga dilakukan di sana. Saat Lebaran tiba, Musa dan keluarganya juga menyiapkan uang untuk saudara-saudaranya yang lebih muda. Tidak hanya uang, THR bisa diberikan dalam bentuk makanan atau bingkisan lainnya.

"Iya, wajib memberi dari orang tua ke anak-anak. Kalau kamu sudah bekerja, kamu harus memberi. Sama juga seperti di sini. Jadi setelah salat Ied di masjid, kami pulang ke rumah bersama keluarga. Saling bermaaf-maafan. Kemudian bermain musik, cerita-cerita, dan membagi THR," tandasnya. (aya/adi) 

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia