Sabtu, 07 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Features

Geliat Bisnis Kuliner Kreatif Foodtruck di Kota Bengawan

25 Mei 2019, 10: 15: 59 WIB | editor : Perdana

ASYIK: Aditya Putra nongkrong di depan mobil yang disulap jadi warung kuliner.

ASYIK: Aditya Putra nongkrong di depan mobil yang disulap jadi warung kuliner.

Share this      

Bisnis di bidang kuliner tidak ada matinya. Agar tetap bertahan dalam persaingan tentu harus memiliki inovasi dan siap melayani dengan baik. Salah satu kuliner yang sedang tren adalah foodtruck. Seperti apa geliatnya?

SERAFICA GISCHA, Solo

SEORANG pria tengah sibuk berbincang dengan beberapa orang. Di tengah-tengah mobil custom yang disulap sebagai dapur masakan, pria berkacamata ini berbagi cerita mengenai bisnis foodtruck yang dia tekuni dalam beberapa tahun terakhir.

“Berawal dari filosofi kopi sebenarnya. Kesannya kok seru jualan tapi keliling. Kemudian bedah tabungan buat beli mobil VW dan disulap menjadi foodtruck. Terus tiga tahun lalu mulai bergabung dengan komunitas foodtruck di Solo,” ujar Aditya Putra, ketua Komunitas Foodtruck Soloraya kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (24/5).

Selain karena film, hobinya yang suka utak-atik mobil ternyata mendorong pria yang akrab disapa Adit ini memilih bisnis foodtruck tersebut. Bagi Adit, bisnis foodtruck bukan hanya sekadar memasak di dalam mobil kemudian berkeliling kota, namun ada sensasi tersendiri. “Ada suasana beda dan lebih asyik,” ujarnya.

Tidak sembarang berjualan di dalam mobil disebut foodtruck. Namun harus memenuhi beberapa persyaratan. Di antaranya adalah proses memasaknya harus di dalam mobil, sehingga mobil diubah menjadi sebuah dapur. 

Tak hanya itu saja, desain mobil mencerminkan artistik yang mampu menarik perhatian orang-orang agar betah nongkrong. Safety first, di mana setiap foodtruck harus memiliki alat pemadam kebakaran ringan (apar). Sebab, semua kegiatan seperti memasak hingga menghidupkan lampu bersumber di mobil tersebut. Dan yang paling terpenting adalah menjaga kebersihan, baik di dalam mobil maupun sekitarnya.

“Banyak suka dukanya. Kalau dukanya paling masalah cuaca yang tidak menentu dan lahan untuk jualan di Solo ini masih terbatas. Kita tidak bisa langsung berhenti untuk menjajakan kuliner mobil. Namun, di balik semua itu ada sensasi tersendiri,” terangnya.

Anggota Komunitas Food Truck Soloraya tidak hanya dikhususkan mobil klasik atau VW sebagai armada, tetapi juga mobil-mobil besar lainnya. Namun, pemilik foodtruck harus pintar dan jeli dalam memilih armada. Terutama kondisi mesin dan rangka mobil harus tetap kuat.

Sampai saat ini sudah ada 22 foodtruck yang tergabung dalam Komunitas Foodtruck Soloraya. Di mana komunitas tersebut sebagai wadah untuk saling bertukar pikiran dan membantu satu sama lain. 

Uniknya, setiap pemilik foodtruck selalu memiliki background sebagai desain interior atau chef. Mereka juga rata-rata juga memiliki pekerjaan lain. Seperti Adit sendiri saat ini bekerja di salah satu bidang ekspor-impor. 

Baginya foodtruck bukanlah sebuah pekerjaan, melainkan tempat nongkrong yang produktif. Di mana bisa berkeliling kota atau antarkota, sekalian jalan-jalan dan menghasilkan uang.

“Kami komitmen untuk membantu pemerintah juga dalam hal industri kreatif segmen kuliner. Meski terlihat mahal, namun range harga yang kami jual tidak lebih mahal dari yang dijual di kafe-kafe. Kami juga akan segera melegalkan komunitas agar bisa gabung dalam Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif),” ujarnya.

Adit berharap untuk anak muda yang ingin membuat foodtruck atau bisnis kuliner harus membulatkan tekad dan menekuni dengan serius. “Apalagi masih masa-masa produktif, jangan hanya sekadar konsumtif,” katanya. (*/bun)

(rs/gis/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia