Rabu, 19 Jun 2019
radarsolo
icon featured
Features

Cerita Mahasiswa asal Turkmenistan Menjalani Ramadan di Indonesia

25 Mei 2019, 19: 05: 42 WIB | editor : Perdana

Mohammed Tashliyev ditemui di UNS.

Mohammed Tashliyev ditemui di UNS. (SEPTINA FADYA/RADAR SOLO)

Share this      

Turkmenistan merupakan salah satu negara Asia Tengah yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Namun karena menganut paham sekularisme, nuansa Ramadan negara ini tidak seistimewa di Indonesia.

PENGALAMAN itu dirasakan Mohammed Tashliyev, mahasiswa asal Turkmenistan yang dua tahun terakhir menetap di Kota Bengawan. Dia lebih senang menjalani puasa Ramadan di Indonesia. Sebab, banyak hal dia temui. Seperti berbagi takjil gratis yang tidak dilakukan di negaranya.

”Di Turkmenistan, buka puasa selalu berada di rumah bersama keluarga. Tidak ada yang berjualan makanan atau takjil untuk berbuka,” jelas Mohammed kepada Jawa Pos Radar Solo di International Office Universitas Sebelas Maret (UNS).

Perbedaan lainnya, berpuasa di Turkmenistan selama 16 jam atau lebih lama tiga jam dibandingkan di Indonesia. Namun, keuntungannya suhu udara jauh lebih dingin. Sehingga tantangannya tidak seberat di Tanah Air.

”Ramadan di Turkmenistan selalu jatuh saat musim panas. Tapi panasnya tidak seperti di sini. Indonesia lebih panas mungkin karena di sini hanya ada dua musim dan di daerah tropis. Sedangkan di Turkmenistan kan ada empat musim,” bebernya.

Mohammed ternyata merindukan menu buka puasa khas Turkmenistan. Yakni Palo. Masakan ini mirip nasi goreng, namun proses mengolahnya berbeda. Beras yang sudah dicuci kemudian dimasak. Lalu dicampur dengan daging ayam, wortel, cabai tumbuk, bawang bombay, dan rempah-rempah hingga matang.

"Setelah mengering dan bumbu meresap pada nasi. Palo siap dihidangkan. Nah, setiap hari aku selalu memasak Palo untuk menu sahur dan buka puasa di sini. Aku jarang membeli makanan di luar," katanya.

Mohammed biasa masak sendiri untuk keperluan makannya. Satu jam sebelum waktu buka tiba, dia sudah berkutat di dapur untuk menyiapkan Palo. Namun saat sahur, sering kali dia memilih untuk tidak bangun makan sahur.

"Kalau di sini tidak makan sahur juga masih kuat puasa sampai buka," kelakarnya.

Mohammed menyebut di negaranya tidak begitu banyak masjid. Meski mayoritas penduduknya muslim. Namun aktivitas Ramadan seperti salat Tarawih, membaca Alquran, dan membagi takjil tetap dilakukan. Selain itu ada pula tradisi bagi-bagi THR saat Lebaran. Mohammed biasa menerima dari orang tua dan saudaranya yang lebih tua. ”Ada yang memberi uang, ada yang memberi pakaian atau makanan. Setelah salat Ied juga berkumpul," tandasnya. (aya/adi)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia