Rabu, 20 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Features

Komunitas Cosplay, Pernah Buat Kostum Dari Kardus

26 Mei 2019, 08: 50: 59 WIB | editor : Perdana

Komunitas Cosplay, Pernah Buat Kostum Dari Kardus

Perkembangan cosplay di Kota Solo sudah mulai tumbuh sejak 2003 silam. Kala itu belum ada wig dan property yang belum mendukung penampilan cosplay. Beberapa cosplayer bahkan rela memotong rambutnya agar menjadi mirip dengan karakter favoritnya. Jika ingin menjadi Sakura dalam anime Naruto, seorang cosplayer hanya bisa menyamakan diri dengan kostum saja. Warna rambut dan aksesoris pendukung lainnya, belum bisa digunakan.

”Saat itu, sudah ada penjahit yang menerima membuat kostum cosplay. Tapi kami repot menjelaskannya. Ya harus pinter-pinter ngakalin gimana caranya biar mirip,” ungkap Ketua Japanholic Solo, Adam Iskandarsyah kepada Jawa Pos Radar Solo.

Melewati 2005, para cosplayer mulai mengenal cara membuat property. Mereka mulai belajar membuat aksesoris dari kardus. Mewarnai rambut dengan pewarna rambut temporer. Agar menyerupai karakter yang sedang di-cosplay-kan.

“Sekarang semua orang bisa mengakses internet. Lewat online orang-orang mudah buat beli property dan kostum. Tinggal nge-klik aja bisa beli wig, property, make up, aksesoris, tersedia di mana aja. Online shoping lebih gampang dapat perlengkapan untuk cosplay,” jelasnya.

Seiring kemudahan itu, Adam menyebut mulai banyak cosplayer baru bermunculan. Ada yang membuat property hanya dengan belajar youtube atau sekadar sharing dengan cosplayer senior. Beberapa lainnya juga memilih membeli atau memesan kostum.

“Dengan kemudahan itu, mereka mudah komunikasi dengan cosplayer antarkota lainnya. Kalau di Solo cosplayernya hanya sekadar hobi, belum sampai mencetak costum maker atau guest star cosplayer,” katanya.

Menurutnya, cosplay di Kota Bengawan masih berkembang namun potensial. Butuh usaha lebih untuk meningkatkan kualitas cosplayer. Perlu banyak belajar dari cosplayer Jogjakarta dan Semarang yang sudah langganan juara kompetisi tingkat regional dan nasional.

”Tapi kami optimistis cosplayer di Solo punya potensi. Meskipun mereka membuat kostum belum jadi pekerjaan utama, masih profesi sampingan dan hobi. Tapi sudah banyak mereka yang mau menerima pesanan kostum cosplay,” sambungnya.

Saat ini, member Japanholic Solo tercatat ada 70 anggota. Dengan 30 anggota aktif. Selebihnya, jarang mengikuti kegiatan karena kesibukan pekerjaan. Mayoritas anggota aktif dari kalangan anak SMP sampai kuliahan. (aya/adi)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia