Senin, 27 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Sukoharjo

Kekeringan, Warga Mulai Beli Air Bersih Per Tangki Rp 150 Ribu

27 Mei 2019, 13: 57: 21 WIB | editor : Perdana

SULIT AIR: Warga Dusun Guntur, Desa Gunturharjo, Kecamatan Paranggupito mengambil air bersih dari Sumber Weru. Sumber air ini dimanfaatkan oleh ratusan KK di dusun setempat

SULIT AIR: Warga Dusun Guntur, Desa Gunturharjo, Kecamatan Paranggupito mengambil air bersih dari Sumber Weru. Sumber air ini dimanfaatkan oleh ratusan KK di dusun setempat (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)

Share this      

WONOGIRI - Dampak musim kemarau sudah mulai dirasakan warga di Wonogiri bagian selatan, khususnya yang tinggal di wilayah Paranggupito. Mereka terpaksa membeli air bersih untuk kegiatan harian karena sumber air sudah kering. Untuk satu tangki berisi 5.000 liter, warga harus merogoh kocek Rp 140 ribu sampai Rp 150 ribu. Harga tergantung jauh dekatnya lokasi pengiriman air. 

Warga Desa Sambiharjo, Kecamatan Paranggupito, Parmo mengatakan bahwa sebagian warga di desanya sudah mulai membeli air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Namun, saat ini sudah banyak warga yang mendapatkan air bersih melalui pipa-pipa yang sudah dibangun.  “Sebagian kecil warga masih beli air untuk harian,” kata Parmo, mantan Kades Sambiharjo ini. 

Menurut Parmo, rata-rata per tangki air bersih sampai ke Desa Sambiharjo seharga Rp 140 ribu. Kemudian, untuk kebutuhan air minum ternak, warga biasa mengambil air dari embung atau penampungan air hujan. 

Hal yang sama dikatakan Heri Sutopo, warga Desa Gendayakan, Kecamatan Paranggupito. Di desanya, sudah banyak warga yang membeli air melalui tangki. Harga per tangki mencapai Rp 150 ribu. “Sampai Gendayakan sekitar Rp 150 ribu per tangki. Tapi tangki ukuran 6.000 liter,” katanya. 

Air bersih tersebut biasanya digunakan warga cukup untuk kebutuhan harian selama tiga pekan. Setelah habis, biasanya warga membeli lagi untuk kebutuhan mereka selanjutnya. ”Kalau di rumah saya satu tangki cukup untuk tiga pekan,” kata Ratna Dewi, warga Dusun Tlogorejo, Desa Songbledek, Kecamatan Paranggupito, kemarin. 

Lama tidaknya penggunaan air bersih, tergantung banyak sedikitnya jiwa dalam satu keluarga. Semakin banyak anggota keluarga, semakin banyak pula kebutuhan air bersihnya.  “Saya sudah beli air bersih sejak akhir Maret lalu. Sampai saat ini sudah habis enam tangki," kata anggota PPK Kecamatan Paranggupito ini. 

Menurut dia, di Desa Songbledek ada sumber air Kutah yang saat ini dimanfaatkan oleh warga dengan bantuan pemerintah. Namun, jaringan pipa belum sampai ke rumahnya karena jaraknya yang jauh. (kwl/bun)

(rs/kwl/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia