Senin, 27 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Solo

Belanja Pemudik di Jateng 3,8 T, Pemkab Harus Tangkap Peluang 

27 Mei 2019, 14: 30: 59 WIB | editor : Perdana

Belanja Pemudik di Jateng 3,8 T, Pemkab Harus Tangkap Peluang 

KEMENTERIAN Perhubungan telah memprediksi jumlah pemudik pada tahun ini mencapai 18,2 juta orang dari Banten,  Jabodetabek dan Bandung Raya, mengingat ketiga wilayah itu memiliki jumlah perantauan terbanyak se-Indonesia. Dari data tersebut, arah pergerakan pemudik paling banyak menuju Jawa Tengah.

Pengamat Transportasi Djoko Setijowarno mengatakan bahwa data tersebut harus menjadi perhatian penyelenggara perhubungan agar makin fokus dalam persiapan dan pengawasan masa angkutan Lebaran. Pasalnya, tujuan pemudik dari Jabodetabek terbanyak ke Jawa Tengah 5,6 juta atau 37,68 persen. Sementara pemudik yang memilih memakai bus mencapai 4,5 juta orang atau 30 persen, mobil pribadi 4,3 juta orang atau 28,9 persen, kereta api 2,5 juta orang atau 16,7 persen, pesawat udara 1,4 juta orang atau 9,5 persen, sepeda motor 942 ribu orang atau 6,3 persen. “Ini data dari Litbang Kemeterian Perhubungan,” ujar Djoko kemarin.

Potensi transaksi pemudik selama Lebaran 2019 sebesar Rp 10,3 triliun untuk dibelanjakan di lokasi mudik. Jateng kebagian 3,8 triliun.  Sedangkan Rp 6 triliun untuk urusan transportasi. Dan Jateng mencapai Rp 2 triliun.  

“Potensi belanja ini mesti dimanfaatkan oleh daerah-daerah yang dilalui Tol Trans-Jawa. Salah satunya dengan menyiapkan rest area,” jelas Djoko.

Dengan menyiapkan lokasi alternatif rest area bisa menambah kenyamanan dan keamanan selama mudik Lebaran. Badan usaha jalan tol mesti aktif mengedukasi masyarakat dan pemudik untuk beristirahat di luar jalan tol atau di daerah yang dilalui jalan tol. 

“Operator jalan tol juga harus menyiapkan sistem yang membuat pemudik tak perlu membayar saat keluar masuk di salah satu pintu Tol Trans-Jawa untuk istirahat di daerah tersebut. Hal ini penting untuk mendorong pemudik memanfaatkan daerah yang dilalui jalan tol sebagai tempat istirahat dan menghindari macet di dekat rest area,” papar Djoko. 

Salah satu contoh lokasi yang dapat disulap jadi rest area alternatif seperti di Gerbang Tol Salatiga. Lokasinya cukup lapang. Area untuk istirahat bagi pengguna jalan tol sebaiknya berjarak 200-300 meter dari pintu tol. Ini penting agar tidak macet.

 “Jumlah rest area belum mencukupi kebutuhan pemudik yang akan singgah. Makanya perlu rest area alternatif, sarannya ditambah petunjuk rambu rest area alternatif di luar jalan tol.

Keselamatan pemudik juga harus mendapat perhatian. Meski pada saat mudik Lebaran, angka kecelakaan menurun hingga 30 persen dibanding biasanya. Potensi kecelakaan dalam tol biasa terjadi lantaran masalah teknis seperti pecah ban. Oleh sebab itu, setiap pemudik yang lewat tol disarankan dapat beristirahat setelah 2-3 jam saat menempuh perjalanan. 

“Bisa jadi pengemudi bisa lebih dari satu, tetapi kondisi kendaraan juga harus tetap prima. Kendaraan perlu istirahat sejenak. Permukaan jalan tol (rigid pavement) yang tidak dilapisi aspal membuat ban cepat aus dan panas,” terang Djoko.

Alasan inilah yang mendasari pertimbangan untuk penambahan rest area di luar tol dekat gerbang tol lebih memungkinkan untuk mengantisipasi akan banyaknya pemudik yang ingin beristirahat sejenak. Rest area tersebut dapat difasilitasi pemda setempat mengingat keberadaan rest area di sepanjang tol tidak akan mampu memenuhi semua pemudik lewat tol. 

Soal pemudik yang menggunakan sepeda motor juga diimbau mengambil istirahat setiap satu jam perjalanan. Tujuannya untuk memulihkan kondisi tubuh. Hindari membawa anak-anak dan bawa barang berlebihan. “Dan satu lagi, penggunaan angkutan barang untuk  mengangkut orang harus dilarang melintas,” tegas Djoko.

Kepala Bidang Angkutan Jalan Dishub Jateng Ginaryo mengatakan bahwa pergerakan pemudik akan datang secara bergelombang melintasi atau menuju Jawa Tengah pada 30 Mei-2 Juni 2019. Saat itulah potensi pertemuan arus di exit tol dan jalur pantura menjadi perhatian seperti di Breksit, Brebes Barat karena kendaraan dari timur akan keluar di Pantura. 

“Koordinasi lintas sektor sudah dilakukan agar pertemuan arus di Pantura dan exit tol terus di pantau. Makanya posko terpadu kami siaga sampai H+7 Lebaran,” jelas dia. (ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia