Kamis, 18 Jul 2019
radarsolo
icon featured
Sukoharjo

Dua Polisi Ini Terima Penghargaan Gara-Gara Tolak Suap

30 Mei 2019, 09: 05: 59 WIB | editor : Perdana

TETAP PROFESIONAL: Bripka Sri Widodo dan Brigadir Arif Setiawan usai menerima penghargaan.

TETAP PROFESIONAL: Bripka Sri Widodo dan Brigadir Arif Setiawan usai menerima penghargaan. (A CHRISTIAN/RADAR SOLO)

Share this      

Menjadi penegak hukum tentu banyak godaan. Salah satunya rentan iming-iming suap. Bripka Sri Widodo dan Brigadir Arif Setiawan mengalami itu. Sikapnya yang kukuh menolak suap akhirnya mendapat apresiasi dari pimpinan mereka. Seperti apa ceritanya

A. CHRISTIAN, Solo

BRIPKA Sri Widodo tidak pernah menyangka bila tindakan dia bersama rekannya Brigadir Arif Setiawan menolak suap dari supir truk bus yang melanggar lalu lintas akan viral dan berbuah penghargaan dari Kapolresta Kombes Pol Ribut Hari Wibowo. 

Dia bercerita, pada awal Ramadan lalu, dia bersama rekannya menghentikan bus antarkota dalam provinsi (AKDP) karena melanggar traffic light  Ngemplak, Kelurahan Gilingan, Banjarsari, Solo. “Jadi waktu itu, sehabis pengamanan jalur RI 3 (Ibu Negara Iriana Joko Widodo), saya dan rekan saya Arif patroli naik sepeda motor trail di kawasan Ngemplak. Sebab dari info yang masuk ke kami, banyak bus dari arah terminal yang melanggar traffic light, terutama pagi hari,” ujar Widodo.

Benar saja sekitar pukul 08.00, sebelum memakirkan sepeda motor, dari kaca spion Widodo melihat ada bus AKDP jurusan Solo-Wonogiri melintas di Jalan Ahmad Yani dari arah barat menuju timur dengan kecepatan tinggi. Saat itu arus lalu lintas padat. Bus tersebut memakan jalur berlawanan untuk menghindari antrean kendaraan di depannya.

“Waktu itu bus sudah kencang saat naik dari arah viaduk Gilingan. Benar saja saat tiba di simpang empat Ngemplak dia melanggar lalu lintas. Waktu itu yang menyala hijau adalah arus dari arah utara menuju selatan, dan saat itu jam padat, banyak yang berangkat kerja dan sekolah. Untungnya saat melanggar lalu lintas tersebut tidak menimbulkan kecelakaan, namun cukup membahayakan pengguna jalan lain,” ujarnya.

Ketika mendapati ada bus yang melanggar, Widodo yang saat itu mengemudikan sepeda motor langsung tancap gas mengejar angkutan umum tersebut. Sekitar 100 meter dari simpang empat Ngemplak, bus tersebut berhasil dihentikan oleh kedua anggota polisi tersebut.

Setelah diberhentikan, baik supir maupun kernet bus diminta turun untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. “Sesuai dengan SOP, ketika ada kendaraan yang melanggar aturan selalu kami minta untuk menunjukkan surat kelengkapan berkendara. Waktu itu yang menindak Arif, sedangkan saya mengabadikan momen dengan video HP,” ungkap Widodo.

“Karena memang sesuai dengan petunjuk atasan, setiap kita menindak agar diabadikan sebagai bukti laporan ke pimpinan. Setelah diminta menunjukkan surat kelengkapan supir bus naik kembali ke kendaraannya. Dengan alasan mengambil STNK, setelah itu SIM dan STNK-nya langsung diserahkan kepada kami,” paparnya.

Saat dicek, ternyata sang supir menyelipkan selembar uang Rp 50 ribu di antara lipatan STNK dan bersaha nego dengan kedua anggota satlantas tersebut. Namun upaya tersebut tak berhasil, karena Widodo dan Arif menolak. 

“Saya yang mendokumentasikan, dari foto saya pindah ke video, kemudian saya rekam saat sopir tersebut mencoba menyuap kami,” ujarnya.

Tanpa banyak cakap, anggota kepolisian ini mengembalikan uang tersebut kepada sang supir berikut memberikan surat tilang. Setelah itu supir diminta untuk menjalani proses tilang. 

“Video yang saya rekam itu lalu saya kirim ke grup WA Satlatnas Polresta Surakarta. Maksudnya untuk laporan kepada pimpinan,” ujarnya.

Singkat cerita, video tersebut ternyata diunggah oleh salah satu anggota lain di akun media sosial tanpa sepengetahuan mereka berdua. Ternyata dalam hitungan jam, video yang terunggah itu di-repost oleh akun lain dan menjadi viral. 

Widodo sendiri mengetahui kejadian tersebut viral setelah diberi tahu anggota lainnya. Informasi itu akhirnya diketahui Kapolresta Surakarta Kombes Pol Ribut Hari Wibowo. Hingga suatu hari mereka dipanggil untuk menghadap kapolresta. 

“Kami berdua diminta untuk menceritakan kejadian tersebut, kemudian saya ceritakan apa adanya. Setelah itu kami berdua meninggalkan ruangan beliau,” terangnya.

Sampai pada saat apel pagi, secara mendadak nama keduanya disebut oleh kapolresta. Di depan ratusan peserta apel di Mapolresta Surakarta, keduanya diberikan penghargaan dari kapolresta. 

“Saya tidak menyangka mendapat penghargaan tersebut. Padahal saya menjalankan tugas seperti biasa. Semoga kami tetap profesional dalam menjalankan tugas dan tidak tergoda apapun,” ujar Widodo. (*/bun)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia