Jumat, 06 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Wonogiri

Kondisi Mantan Kasat Reskrim Membaik, Pengeroyok: Saya Pukul Kena Kaki

30 Mei 2019, 08: 35: 59 WIB | editor : Perdana

Mantan Kasat Reskrim AKP Aditia Mulya Ramdhani saat akan dibawa ke Singapura untuk pengobatan lebih maksimal beberapa waktu lalu

Mantan Kasat Reskrim AKP Aditia Mulya Ramdhani saat akan dibawa ke Singapura untuk pengobatan lebih maksimal beberapa waktu lalu

Share this      

WONOGIRI - Kondisi mantan Kasat Reskrim Polres Wonogiri AKP Aditia Mulya Ramdhani yang dirawat di Singapore General Hospital (SGH) sudah lebih baik. Sudah tiga pekan dia mengalami koma setelah dikeroyok sejumlah orang saat terjadi konflik dua kubu massa perguruan silat di Sidoharjo awal Ramadan lalu.

Kapolda Jateng Irjen (Pol) Rycko Amelza Dahniel melalui Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol Agus Triatmadja mengatakan, sejak Rabu (29/5), Aditia sudah dipindahkan ke bangsal perawatan di SGH. 

”AKP Aditia masih dirawat di Singapura. Ada kabar baik bahwa kondisinya sudah membaik, tapi masih belum sadar. Hari ini (kemarin) informasinya sudah dipindah ke bangsal perawatan, sebelumnya di ICU,” kata Agus. 

Menurut Agus, luka paling parah yang diderita Aditia yakni mengalami robek di bagian kepala di belakang telinga. Luka robek cukup panjang disebabkan senjata tajam. 

”Luka yang ada di kepala belakang telinga kanan ini yang paling parah,” ungkap dia. 

Terpisah, Dewi Setiyowati, istri Aditia Mulya yang dihubungi melalui aplikasi chatting juga mengungkapkan hal sama. Hanya, Dewi masih enggan mengungkap lebih jauh terkait kondisi suaminya. 

”Kondisi Bapak sudah sangat, sangat jauh lebih baik. Tapi belum sadar,” kata Dewi.

Sementara itu, polisi sudah menetapkan sembilan orang tersangka pengeroyok Aditia. Mereka yakni DFR, AP, P, AAH, dan A yang semua warga Slogohimo. Lalu, ER dan S, warga Purwantoro. HPA, warga Wonogiri dan JN, warga Jatisrono. Salah seorang dari tersangka itu masih di bawah umur, yakni AP, 17.

AM, salah seorang tersangka mengaku, saat kejadian ada banyak orang dan kondisi sudah penuh emosi. Massa di sekitar lokasi kejadian meneriakkan bahwa korban adalah anggota perguruan sebelah. 

Dia mengaku tidak mengetahui jika yang dianiaya itu adalah anggota polisi. ”Semua berteriak, langsung melakukan pemukulan. Saya memukul pakai kayu kena kaki sebelah kiri,” ujar AM. (kwl/ria)

(rs/kwl/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia