Minggu, 17 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Features

Kemandirian Disabilitas, Harumkan Nama Bangsa di Arena Olahraga

31 Mei 2019, 17: 44: 07 WIB | editor : Perdana

BANJIR KERINGAT: Atlet balap kursi roda asal Kabupaten Sukoharjo Doni Yulianto (kiri) berlatih di lintasan atletik Stadion Sriwedari. Foto bawah, Doni bersama band The Beef.

BANJIR KERINGAT: Atlet balap kursi roda asal Kabupaten Sukoharjo Doni Yulianto (kiri) berlatih di lintasan atletik Stadion Sriwedari. Foto bawah, Doni bersama band The Beef. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

Siapa bilang penyandang disabilitas tak bisa mandiri dan berprestasi. Sejumlah disabilitas di Kabupaten Sukoharjo mempu menjawab tantangan tersebut di tengah keterbatasan mereka. Tinggal bagaimana peran aktif Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukoharjo dalam memberikan pemihakan.

SOSOK Doni Yulianto patut diberi apresiasi. Atlet National Paralympic Committee (NPC) Indonesia asal Sukoharjo ini sudah membuktikannya di bidang olahraga. Tampil di cabang olahraga (cabor) atletik nomor balap kursi roda 1.500 meter T54 (kelas kecacatan, Red), Doni sukses menyabet medali emas. Pada gelaran bergengsi ASEAN Para Games (APG) 2017 di Malaysia.

Sukses Doni menyumbang emas tak lepas dari kegigihannya dalam berlatih. Maklum, pada gelaran APG 2011 di Kota Solo, Doni gagal mendulang emas. Hanya menggondol medali perak nomor balap kursi roda 400 meter dan perunggu 100 meter. Hingga akhirnya pada APG 2017 di Malaysia, Doni mampu menyabet emas setelah mengungguli atlet Thailand K. Thamsonpon. Catatan waktunya kala itu 32,45 detik.

Capaian ini tak membuat Doni terlena. Dia kembali membidik target juara di ajang APG 2020 di Filipina. Tantangan terberat, yakni para calon lawan sudah mengetahui kekuatannya. Atlet dari negara lain tak akan membiarkan Donni melenggang terdepan di garis finis.

”Saya sudah tahu siapa saja lawannya. Andai lawannya nanti berbeda, minimal kekuatannya hampir sama. Perbedaan itu wajar karena faktor regenerasi atlet. Nah di nomor balap kursi roda, pengalaman dan jam terbang sangat berpengaruh. Musuh terberat saya dari Thailand,” tutur Doni kepada Jawa Pos Radar Solo.

Selain punya atlet potensial, kontingen dari Negeri Gajah Putih juga disokong peralatan mumpuni. Termasuk kursi roda yang digunakan. ”Thailand itu atletnya sudah berlabel dunia. Keunggulan mereka ada pada fisik, stamina, dan alat. Kursi roda mereka bobotnya ringan sekali. Lajunya di lintasan sangat kencang. Tapi saya tetap optimistis dengan persiapan selama ini. Semoga di Filipina nanti bisa meraih emas lagi,” jelasnya.

Jago di arena olahraga, ada bakat lain yang dimiliki Doni, yakni bermusik. Dia ternyata juga jago memainkan keyboard. Tergabung bersama The Beef, salah satu band pengisi album kompilasi Pasoepati #1 yang diikuti 14 band lokal di Kota Solo. 

Launching album kompilasi Pasoepati #1 digelar di salah satu restoran di Solo, Sabtu malam (4/5). The Beef membawakan lagu ciptaan mereka berjudul Pasoepati Anthem. Selain Doni, The Beef digawangi Ega (vokalis), Danar (drum), dan Frengky (bass).

”Soal band The Beef di album kompilasi Pasoepati, ceritanya reuni dadakan. Padahal personel lain sekarang sudah tak tinggal di Solo lagi. Soal lagu kami di album itu, kami ciptakan 2012 silam,” terang Doni.

Diakui Doni, bakat musik hanya sebatas hobi. Untuk melepas penat setelah berlatih keras di lintasan atletik. ”Olahraga itu targetnya meraih emas untuk negara. Kalau musik hanya untuk senang-senang saja. Saya sejak SMA memang suka musik,” ucapnya. (nik/fer)

(rs/yan/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia