Rabu, 24 Jul 2019
radarsolo
icon featured
Features

Serunya Puasa di Negeri Kanguru

02 Juni 2019, 11: 05: 59 WIB | editor : Perdana

JAUH MERANTAU: Baginda Mirza di salah satu tempat di Sydney, Australia.

JAUH MERANTAU: Baginda Mirza di salah satu tempat di Sydney, Australia.

Share this      

Masing-masing daerah bahkan negara memiliki ciri khas dalam menjalankan ibadah puasa. Seperti dirasakan Baginda Mirza yang sudah kali keenam Ramadan di Sydney, Australia.

A. Christian.

PRIA berkacamata ini menginjakkan kakinya di Negeri Kanguru sejak Agustus 2013 untuk menempuh pendidikan tinggi. Rampung kuliah, dia memutuskan menetap di Sydney.

“Kalau di Indonesia, semua hal yang berkaitan dengan aktivitas agama Islam sangat lumrah. Jauh berbeda ketika tinggal di negara yang muslimnya minoritas. Ada beberapa hal yang harus dilakukan agar bisa beradaptasi dengan baik dengan warga lain,” ujarnya.

Baginda mencontohkan, rekan kerja, kolega dan manajer tempatnya bekerja tidak mengetahui tentang Ramadan. Mereka baru mengetahui kewajiban berpuasa bagi umat muslim dari Baginda. “

Seiring berjalannya waktu, rekan-rekan Baginda bisa memahami tentang puasa Ramadan. “(Latar belakang warga, Red) di Sydney sangat bervariasi. Dalam hal agama, kultur dan kebudayaan. Australia menjunjung tinggi hak warga negara dan kebebasan berpendapat. Bisa dibilang, semua orang bebas berekspresi dan beribadah menurut keyakinannya selama tidak melanggar hukum dan mengganggu orang lain,” urainya.

Waktu yang dibutuhkan untuk berpuasa di Australia, lanjut Baginda, lebih pendek dibandingkan di tanah air. Ini disebabkan bulan suci tiba bersamaan datangnya musim dingin.

“Memang terlihat enak. Sudah waktunya lebih singkat, terus musim dingin. Tapi, udaranya sangat kering. Padahal sudah terbiasa dengan udara di Indonesia yang lembab. Jadi setelah menjalani sendiri, lebih enak menjalankan puasa ketika musim panas,” imbuh Baginda.

Mencari masjid di Sydney, lanjutnya, tidak semudah di Indonesia. Jumlahnya yang tidak banyak. Kalau pun tersedia masjid, adalah miliki organisasi Islam tertentu. Ada Masjid Turki untuk Sunni di Surry Hills dan Auburn, serta masjid bagi penganut Syiah di daerah Kingsgrove. Sedangkan untuk Masjid Indonesia ada di daerah yang bernama Tempe.

“Hampir setiap sepekan sekali di Masjid Indoensia mengadakan ceramah dan tak jarang mendatangkan ustad dari Indonesia. Atau negara bagian lain di Australia. Jadi walau terpisah jarak, tetap merasakan ibadah puasa di Indonesia,” pungkasnya. (*/wa)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia