Jumat, 19 Jul 2019
radarsolo
icon featured
Features

Merasakan Pengalaman Ramadan di Amsterdam

03 Juni 2019, 09: 05: 59 WIB | editor : Perdana

LIBURAN: Sinta Agustina saat berada di Kota Amsterdam.

LIBURAN: Sinta Agustina saat berada di Kota Amsterdam. (DOK.PRIBADI)

Share this      

Meski minim masjid, Amsterdam termasuk kota yang ramah bagi muslim untuk menunaikan ibadah salat. Pengalaman ini dirasakan Sinta Agustina selama menjalani Ramadan di sana.

AWALNYA Sinta merasa kesulitan mencari masjid atau sekadar musala. Namun ternyata penduduk kota setempat memberikan tempat khusus yang bersih dan bisa digunakan Sinta untuk melaksanakan salat.

"Walaupun di sana susah menemukan masjid atau musala, tapi mereka tidak keberatan kalau aku salat di ruang rapat, yang insyaallah bersih, karena pakai karpet," bebernya kepada Jawa Pos Radar Solo.

Muslim Amsterdam tidak perlu khawatir kesulitan cari tempat untuk salat. Sebab, ada beberapa tempat yang nyaman bagi muslim untuk salat, seperti hotel.

"Tapi kalau lagi di luar, susah memang mencari tempat buat salat. Karena masjid jaraknya jauh," sambungnya.

Sinta kagum dengan sikap penduduk setempat yang menghargainya sebagai seorang muslim. Misalnya saat kebanyakan temannya minum wine di acara pesta, dia secara khusus ditawari untuk meminum cokelat yang sudah pasti halal.

"Kebetulan aku ke Belanda karena ada undangan. Jadi aku memang di-treatment oleh si pengundang. Sebelum berangkat juga aku bilang bahwa aku puasa, tidak minum wine, dan tidak makan pork (daging babi,Red). Jadi mereka siapin sesuai kebutuhan," katanya.

Nah, sebelum berangkat sudah mengecek jadwal imsakiyah di sana. Ternyata puasanya selama 19 jam. Subuh mulai pukul 03.00 kemudian Magrib pukul 22.00. Karena Sinta merasa durasi tersebut terlalu lama, ia memutuskan untuk ikut waktu puasa di negara terdekat, Italia.

"Jadi puasaku hanya 16 jam. Dari jam 3 sampe jam 7 malam. Soalnya kalau sampe jam 10 enggak kuat. Aku pernah makan di resto jam 7 malam. Pernah diberitahu pramusaji kalau belum datang waktu berbuka. Mereka paham dengan amalan kita," kenangnya.

Berhijab di negara yang penduduk muslimnya minoritas ternyata tidak semenyeramkan yang dipikirkan orang kebanyakan. Sinta tidak merasa ada diskriminasi saat berada di sana. Menurutnya, Amsterdam sudah cukup banyak turis yang datang. Mungkin masyarakat di sana juga sudah terbiasa menerima orang lain yang 'berbeda' dari mereka. Contohnya, dengan mengenakan hijab.

"Mereka juga tahu kok kalau Ramadan muslim wajib berpuasa. Mungkin karena banyak imigran dari Timur Tengah juga ya. Jadi mereka sudah terbiasa dengan umat muslim pendatang," imbuhnya.

Imigran Timur Tengah inilah yang memudahkan muslim di sana mendapatkan makanan halal. Karena mereka membuka resto atau toko makanan halal. (aya/adi)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia