Rabu, 20 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Features

Menelusuri Eksistensi Sinden Jalanan di Kota Bengawan 

04 Juni 2019, 10: 35: 59 WIB | editor : Perdana

Menelusuri Eksistensi Sinden Jalanan di Kota Bengawan 

Jika mendengar kata sinden yang tergambar adalah perempuan dengan busana kebaya rapi sambil menyanyikan berbagai langgam tempo dulu yang merdu di telinga. Namun tidak semua sinden ini main mengiringi pentas wayangan. Ada dari mereka bermain di tengah hiruk pikuk kendaraan. Seperti apa eksistensi mereka? 

SUARA tembang sinom (macapat) terdengar lirih kala Jawa Pos Radar Solo berjalan di area pusat kuliner di kawasan Keprabon. Dari balik tirai warung-warung kuliner itu tampak seorang wanita parobaya duduk bersila di salah satu sudut sambil melantunkan irama musik Jawa klasik. Jika didengarkan dengan seksama, ternyata santap malam sambil mendengarkan lantunan tembang seperti itu membuat para pengunjung merasa nyaman. Maka tak heran jika pengamen jalanan dengan model seperti ini akan mudah ditemui di sejumlah warung makan yang ada di kawasan Keprabon. 

Sutiyem, 55, saat dihampiri koran ini sedang asyik ngidung di depan para wisatawan yang mampir ke Warung Nasi Liwet Wongso Lemu, Keprabon. Meski suaranya terbilang lirih, Sutiyem mampu menyedot semua perhatian pengunjung warung yang sedang menikmati kelesatan nasi liwet legendaris Kota Bengawan tersebut. “Kalau saya di sini sudah dari tahun 90-an. Sebelumnya ya keliling ke mana-mana,” kata dia.

Agar suasana hangat, sesekali Sutiyem mengajak berbincang para pengunjung atau hanya sekadar bertegur sapa untuk mencairkan suasana. “Request-request. Hayo ajeng ngresakne napa Mas (Mau minta lagu apa, Red),” tanya Sutiyem pada pengunjung warung. 

Guyon waton ala sinden jalanan itu akhirnya ditanggapi salah seorang pembeli dengan meminta sebuah tembang klasik. Tak pakai ancang-ancang Sutiyem pun langsung tancap gas dan menyanyikan langgam tersebut. 

“Lha wong saya ini sudah 30 tahun jadi pengamen seperti ini. Jadi ya sudah hafal di luar kepala. Apa lagi kalau cuma tembang lawas,” kata Sutiyem.

Kendati demikian, penghasilannya kini tak begitu bisa diandalkan seperti beberapa dekade lalu. Khususnya pada era 60 hingga 70-an, di mana masih menjadi favorit masyarakat pada zaman tersebut. Seingat dia, pada era seperti itu, seni cokekan masih banyak dimainkan di berbagai kesempatan seperti pasar tradisional, perkampungan, dan pusat-pusat kegiatan  masyarakat seperti pasar malam dan lainnya. Namun karena banyak pelaku seni yang meninggal dunia, kini hanya tinggal beberapa saja yang masih melakoni kesenian tersebut.

 “Teman saya itu yang meninggal ada 17 orang. Yang masih main di Solo ini saja tinggal lima orang (tiga sinden, satu pemain siter, dan satu pemain kendang). Sisanya balik ke desa masing-masing,” kata Sutiyem.

Pada era keemasannya, seni cokekan dimainkan dengan instrumen yang lebih beragam seperti gender berung, siter, kendang, dan gong, serta diramaikan oleh banyak sinden. Seiring berjalannya waktu, instrumen yang dimainkan pun makin sedikit bahkan untuk sesekali waktu pesinden seperti dirinya bisa juga merangkap dengan memainkan siter. 

“Kalau ini saya ajak pemain siternya, tapi kalau sedang sepi ya saya kadang nyinden plus nyiter. Lha nanti kalau ada tanggapan baru agak komplit ada siter, kendang, gong bumbung (tiup), dan dua sinden. Kalau beberapa tahun ini sudah mulai lumayan kalau ada tanggapan. Karena kadang juga dipanggil di hotel-hotel jadi sudah agak lumayan kalau sekarang,” ujar warga Pringgading, Banjarsari, Solo tersebut.

Melihat fakta tersebut koran ini makin penasaran kenapa Sutiyem dan kawan-kawan seprofesinya masih memerankan fungsi sebagai seniman jalanan. Hal tersebut tidak lain lantaran masalah ekonomi. Meski dari sisi seni mereka adalah pelaku kesenian yang sudah dianggap senior, dari sisi ekonomi mereka juga masyarakat yang harus memenuhi kebutuhan hidup agar dapur tetap mengebul. “Lha kalau tidak seperti ini mau apa. Jadi ya jalan di dua fungsi. Di satu sisi melestarikan budaya, di sisi lain ya memang cari makan,” kelakar Sutiyem.

Sutiyem melakoni profesi ini sejak 1975. Kala itu dirinya memulai debutnya di kawasan kuliner Malioboro Jogjakarta. Dia bukan orang awam dalam urusan nembang. Sebab, sejak muda sudah aktif  belajar kesenian tradisional di sanggar-sanggar seni di kampungnya. “Setelah menikah saya baru ngamen. Kebetulan suami punya sanggar seni, namanya Sanggar Madyo Laras di Ngawi. Dari sana saya mulai banyak belajar instrumen lain. Tapi awalnya itu ya dari banyak tanggapan di daerah-daerah. Setelah sepi tanggapan kami baru mencoba mencari jalan lain dengan ngamen di pasar-pasar itu,” kata dia.

Pada hari-hari ini, Sutiyem biasa membawa pulang uang Rp 25-100 ribu. Saat ramai penghasilannya pun meningkat antara Rp 100-300 ribu. Namun jika sedang sepi pengunjung, dia tak jarang harus menyudahi malam panjang yang melelahkan dengan selembar uang Rp 5 ribu rupiah. Beruntung dalam setiap giat ngamen dia selalu dibawakan bekal makan oleh sang pemilik warung. 

Meski terbilang sangat sederhana lantaran belum ada yang menggunakan pengeras suara atau sound system, keberadaan seni jalanan seperti ini tetap tidak mengurangi kenikmatan bagi para pendengarnya. Hal itu berasal dari keyakinan para pemusiknya saat memainkan nada-nada yang seloah mereka pelajari sejak puluhan tahun lamanya. 

“Kalau saya main siter sudah 40 tahun. Dulu awalnya ya belajar dari teman yang bisa,” kata si pemetik siter, Sugimin, 69.

Biasanya, Sugimin duet dengan sang istri yang juga merupakan seorang sinden kesenian cokean. Namun karena kondisi sekarang tidak menentu, dia membiarkan istrinya untuk tinggal di rumah dan tidak ikut berkeliling untuk mengamen. “Paling nanti istri saya ikut kalau saat Lebaran. Biasanya kan ramai. Pasti banyak yang mampir ke sini,” harap dia.

Kendati ia dan istri merupakan seniman cokek, tak ada satu pun dari lima anaknya dan 12 cucunya berminat untuk mempelajari kesenian tradisional itu. Karena itu dia pun sangat khawatir jika generasi tua sudah tutup usia, maka kesenian ini akan punah. “Kalau bisa ya ada yang meneruskan ini. Tidak ngamen tidak apa-apa, malah kalau bisa menaikkan derajat kesenian ini,” tutur Sugimin. (ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia