Jumat, 19 Jul 2019
radarsolo
icon featured
Sukoharjo

Penyandang Disabilitas Jadi Imam Masjid hingga Pengusaha Telur Asin

05 Juni 2019, 10: 05: 59 WIB | editor : Perdana

KHUSYUK: Abdul Majid mengaji dengan Alquran braille di Masjid Al Wahab.

KHUSYUK: Abdul Majid mengaji dengan Alquran braille di Masjid Al Wahab. (RYANTONO PS/RADAR SOLO)

Share this      

KITA tak boleh memandang sebelah mata terhadap penyandang disabilitas. Sebab di tengah keterbatasan, mereka juga memiliki bakat dan ingin hidup mandiri sebagaimana orang normal lainnya. 

Abdul Majid, 26, misalnya. Dia dipercaya menjadi imam di Masjid Al Wahab Desa gentan, Baki, Sukoharjo. Abdul menyandang tunanetra sejak masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). 

”Sekarang ini masih kuliah di Solo. Sudah setahun terakhir dipercaya jadi imam di Masjid Al Wahab,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Solo.

Tiap hari, Abdul diperbolehkan warga sekitar tinggal di masjid tersebut. ”Jangan minder dengan keterbatasan kita. Saya awalnya dulu selalu disemangati keluarga. Saat ini warga juga percaya dengan saya sebagai imam,” paparnya.

Kisah sukses lainnya dialami Debora Kurniasari, 41, warga Dukuh Jatimalang RT 1 RW 10 Desa Kateguhan, Kecamatan Tawangsari. Wanita yang akrab disapa Dora ini harus menggunakan kursi roda karena tidak bisa berjalan sejak lahir. ”Dulu waktu masih kecil agak minder. Saya merasa tidak mampu. Beruntung keluarga selalu memberi dukungan,” ucap Dora.

Dora lahir di Karanganyar. Saat masih muda dipercaya menjadi pengurus karang taruna dan mengajar mengaji. Dari sini mental Dora terasah sampai akhirnya dipersunting Wahyu Hidayat, 53, dan memiliki anak bernama Raya Zalfa Ratu Hidayat, 6.

Dia dan suaminya lantas pindah ke Tawangsari, Sukoharjo, 2013 silam. Dora lantas masuk ke organisasi penyandang disabilitas Sehati. Di sini dia mendapat pelatihan membuat telur asin bersama kelompok Self Help Group (SHG). Semuanya beranggotakan penyandang disabilitas.

Pelatihan pembuatan telur asin ini ditekuni Dora. Awalnya dipasarkan di warung sekitar rumah. Hingga akhirnya pesanan mengalir. Kini per pekan dia bisa memproduksi hingga 500 butir telur asin.

”Saya ingin berpesan untuk teman-teman disabilitas, jangan pernah minder. Kita bisa melakukan seperti apa yang orang normal lakukan. Saya Alhamdulillah saat ini bisa berguna bagi lingkungan dengan melibatkan tetangga sekitar,” beber Dora. (yan/fer)

(rs/yan/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia