Minggu, 21 Jul 2019
radarsolo
icon featured
Features

Karawitan Lahir dari Keraton, Dikembangkan di Kampung-Kampung 

05 Juni 2019, 14: 15: 59 WIB | editor : Perdana

Karawitan Lahir dari Keraton, Dikembangkan di Kampung-Kampung 

SEBUAH produk seni selalu hadir dari pusat-pusat kebudayaan yang hidup pada masa itu. Tak terkecuali kesenian yang masih eksis hingga saat ini tak lepas dari beragam seni tradisi dari lingkungan keraton. Termasuk seni karawitan, di mana menjadi sebuah cikal bakal lahirnya berbagai seni baru seperti cokekan dan seni lain.

Koordinator Karawitan Keraton Kasunanan Surakarta Mas Ngabei Rekso Diprojo, 62, tak menampik bahwa kemunculan seni cokekan berasal dari seni karawitan yang dilestarikan di dalam keraton dan berkembang ke berbagai daerah lainnya. Kendati demikian, ia memastikan bahwa di lingkungan keraton tidak dikenal istilah cokekan. Mengingat di keraton sendiri merupakan tempat kelahiran kesenian tersebut.

 “Karawitan di keraton itu klasik, bukan seperti yang di luar sana. Makanya di keraton itu hanya kenal istilah gemelan jangkep dan gadon,” jelas dia.

Kendati demikian, keraton tidak menampik munculnya budaya baru dari budaya asli tersebut. Hal ini diungkapkan oleh adik Raja Keraton Kasunanan Surakarta Paku Buwono (PB) XIII, KGPH Dipokusumo. Pangageng parentah keraton ini mengapresiasi upaya pemerintah daerah setempat dalam hal makin mempopulerkan seni karawitan di masyarakat. 

Melalui kegiatan di sekolah-sekolah formal maupun melalui kelompok-kelompok seni yang kembali dihidupkan di kewilayahan. “Soal karawitan semua sekolah sekarang memberi pelajaran soal itu dalam muatan lokalnya. Bahkan di kampung-kampung itu banyak kelompok karawitan baru yang sudah muncul. Harapannya karawitan dapat menjadi sebagai kehidupan budaya masyarakat,” jelas dia,

Disinggung soal seni cokekan, pria yang akrab disapa dengan sebutan Gusti Dipo ini menilai bahwa seni cokekan itu bersifat dinamis, praktis dan mobile. Yang kelahirannya berasal dari bentuk kreativitas masyarakat untuk memenuhi kebutuhan akan musik gamelan yang kala itu masih bersifat mahal dan hanya dimainkan untuk kalangan tertentu saja. 

Melihat fakta bahwa pelaku seni cokekan sudah berusia lanjut dan tinggal beberapa orang saja, ia juga ikut prihatin. Oleh sebab itu ke depan perlu ada upaya untuk melestarikan kembali. “Fungsi pelestarian saat ini tak melulu diajarkan pada orang jawa tapi juga dengan kelompok masyarakat lain bahkan bangsa asing sekalipun dalam koridor pelestarian budaya,” tutup Dipo. (ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia