Minggu, 21 Jul 2019
radarsolo
icon featured
Features

Seni Cokekan Bagian dari Karawitan, Dimainkan Lebih Sederhana

05 Juni 2019, 18: 55: 59 WIB | editor : Perdana

Seni Cokekan Bagian dari Karawitan, Dimainkan Lebih Sederhana

SEKSI Tata Cara Adat Komite Seni Budaya Nusantara Provinsi Jawa Tengah Yustianto mengatakan membenarkan bahwa seni cokekan merupakan sebuah produk kesenian baru yang lahir dari kesenian yang ada sebelumnya. Dalam hal ini dapat dibilang cokekan merupakan bagian dari seni karawitan yang bentuknya jauh lebih sederhana. 

“Cokekan atau cukikan itu sempalan dari karawitan. Jadi sebuah produk kesenian baru yang lahirnya mau tidak mau tetap memiliki keterkaitan dengan keberadaan seni karawitan,” kata dia.

Dia membenarkan bahwa tidak salah jika seni cokekan tersebut lahir dari keraton, mengingat karawitan juga merupakan produk seni asli keraton. Sebagai pelestari kesenian yang juga merangkap sebagai tenaga pendidik di salah satu SMA negeri di Kota Bengawan, dia memastikan munculnya seni baru ini tumbuh pada masa Paku Buwono (PB) X hingga PB XII, di mana kala itu Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dengan tegas memerintahkan segala pejabatnya untuk membantu penyebaran kesenian asli keraton ke berbagai daerah pemerintahannya.

“Kala itu pengembangan seni asli keraton seperti karawitan, tari, dan lainnya bisa dibilang sangat masih. Penyebarannya itu pasti sampai ke pamengku wilayah masing-masing untuk menciptakan grup-grup kesenian baru di daerah masing-masing yang lansung belajar dari keraton itu sendiri,” beber S. Yustianto.

Adanya upaya pelestarian kesenian tersebut akhirnya mencetak primadona-primadona baru dalam hal kesenian di wilayah masing-masing. Di sisi lainnya, banyaknya seniman yang terus bermunculan kala itu membuat persaingan untuk dapat kesempatan tampil jadi kian runcing. Imbasnya, seleksi alam dimana masyarakat akan memilah sendiri seniman mana yang mereka minati. 

“Di setiap kampung ada grup karawitan. Maka kesempatan untuk bermain di skala yang lebih besar makin sulit. Nah, fenomena yang beriringan adalah mau tidak mau sebagian dari mereka harus keluar untuk memenuhi kebutuhan hidup masing-masing. Maka dapat dipastikan, bahwa para seniman cokekan dulu juga merupakan seniman karawitan di daerahnya masing-masing,” jelas pria yang juga menjabat sebagai ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran Bahasa Jawa Provinsi Jawa Tengah itu.

Dalam Babad Sala Karya R.M Sajid, seni cokekan sempat disebut sebagai bagian dari seni karawitan. Dalam manuskrip itu, cokekan berasal dari kata cukikan, di mana pemakaian pertama dilakukan di kawasan Balong, Surakarta. Mengingat kebutuhan administrasi yang begitu tinggi untuk menghadirkan para seniman karawitan (Gamelan Ageng), penguasa kawasan itu meminta hanya sebagian saja pengerawit dan pirantinya yang dibawa. 

“Kalau menurut cerita itu, dulu Babah Long (Balong, Red) itu meminta empat dulu saja. Instrumen yang dimainkan hanya gender, siter, kendang, dam waranggono (sinden). Jadi asal seni cokekan atau cukikan itu ya dari sini,” papar S. Yustianto.

Seiring perkembangan zaman, sekitar periode 1970, seni cokekan sempat berkembang pesat namun tetap menjadi sebuah produk budaya masyarakat kelas bawah karena panggung pentasnya berada di jalanan perkotaan. Sebelum menetap di emperan warung makan dan pertokoan seperti saat ini. Di era 70 para seniman cokek bermain dalam model grup dengan jumlah personel cukup banyak. Mereka biasa main di sekitar kawasan pasar tradisional dan pusat keramaian. 

“Dulu itu bisa pemain musiknya duduk di suatu tempat, lalu ledek (sinden, Red) berkeliling ke setiap penjuru pasar untuk meminta uang,” beber dia.

Kesenian cokekan makin menurun mengingat banyaknya upaya pembelajaran yang dibuat pemerintah untuk menciptakan kurikulum yang lebih baik bagi pelaku seninya. Ini ditandai dengan lahirnya Konservatori Karawitan Indonesia (Kokar) yang diinisiasi oleh para seniman dan budayawan Keraton Kasunanan Surakarta. 

Empat tahun berselang, lahirlah Akademi Seni Karawitan Indonesia (embrio ISI Surakarta) di Sasana Mulya, Keraton Surakarta. “Dari sini mau tidak mau mereka yang belajar secara otodidak harus mencari lahan permainan baru. Mengingat perkembangan musik dunia juga sedemikian hebat, akhirnya eksistensi seni cokekan kian tenggelam,” kata S. Yustianto.

Kendati demikian, di era sekarang, seni cokekan gaya Surakarta ini mulai dilirik banyak pihak lain, khususnya yang bergerak dalam hal pariwisata. Keunikan seni ini serta biaya yang jauh lebih murah dari pada mendatangkan satu grup karawitan secara utuh membuat kesenian ini memiliki pesonanya kembali. “Saat ini hotel dan restoran berbintang banyak yang tertarik dan menggandeng para seniman ini. Tapi kebanyakan yang main para pengerawit yang sedang memiliki waktu luang,” jelas dia.

Bagaimana agar kesenian ini tidak punah? S. Yustianto memastikan bahwa seni ini tak akan punah jika regenerasi pengerawit terus dilakukan. Sebab, pola cokekan, gadon, maupun gamelan komplit itu sama saja cara memainkannya. “Jadi kalau regenerasi pengerawitnya baik, pasti seni cokek tidak akan punah, begitu pula dengan seni gamelan,” ujarnya.

Nah, yang harus diperhatikan adalah memantau secara ketat dalam durasi waktu berkala serta memberikan target-target yang harus di capai tiap grup karawitan yang ada. Mengingat pemkot telah menghibahkan banyak perangkat gamelan di berbagai kelurahan di kota bengawan. “Jangan cuma beri alat tanpa mengeluarkan targetnya. Jadi biar tidak sia-sia,” tutur S. Yustianto. (ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia