Rabu, 19 Jun 2019
radarsolo
icon featured
Features

Ingat sang Ayah, Putuskan Berhijab

07 Juni 2019, 14: 50: 59 WIB | editor : Perdana

Adil Erdita Ayu Marta

Adil Erdita Ayu Marta (SERAFICA GICHA P/RADAR SOLO)

Share this      

PROFESI sebagai public relation (PR) ternyata memberikan pengalaman tersendiri bagi Adil Erdita Ayu Marta. Terlebih profesi ini menjadi pengalaman baru bagi dia setelah lama bekerja di salah satu BUMN. Selain memberikan pengalaman mengenai dunia PR, melalui profesi ini wanita yang kerap disapa Adil memiliki banyak teman. 

“Dari dulu memang kepingin jadi PR. Apalagi pas kuliah aku ambil jurusan hubungan internasional. Sering ikut acara table manner dan yang sering menjelaskan adalah seorang PR. Dari situ pengin jadi PR,” jelas Adil ketika ditemui Jawa Pos Radar Solo diwaktu senggangnya.

Kecelakaan yang menimpa Adil pada 2018 menjadi salah satu alasan dia untuk mencari pekerjaan di Kota Bengawan sekaligus ikut suami. Kecelakaan tersebut menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Dia harus istirahat total selama sebulan di rumah sakit dan mejalani fisioterapi. “Setelah resign dari kantor BUMN, saya pindah ke Solo dan ikut seleksi PR hotel akhirnya diterima,” ujarnya.

Meski baru empat bulan menjalani profesi ini, pengalaman yang didapat Adil cukup banyak. Bagi Adil, setiap hari adalah belajar dan belajar. Terutama bagaimana cara berkomunikasi dengan orang lain. Sebab, setiap orang memiliki pemikiran dan sifat yang berbeda-beda.

“Dulu waktu satu sampai dua bulan belajar dengan senior saya pikir sudah bisa menguasai semuanya. Ternyata setiap hari selalu menemukan hal-hal baru dan belajar lagi. Apalagi sebagai PR saya juga harus menanggapi tamu komplain,” terangnya.

Soal hijab, ternyata Adil baru mulai serius berhijab pada 2017. Meski dia sejak SMA sudah menggunakan hijab, namun ini karena tuntutan sosial lingkungan sekolah. Kemudian saat kuliah, dia mengaku hanya menggunakan hijab ketika di kampus, setelah itu dia memutuskan untuk melepas hijab.

Hingga pada suatu saat, perempuan mungil kelahiran 10 Juli 1996 ini mengikuti sebuah internship di Jogjakarta dan saat itu tidak menggunakan hijab. Kemudian dalam salah satu momen dia mengikuti pengajian.

“Pada waktu itu aku baru tahu kalau seorang perempuan tidak berhijab, yang menanggung dosanya adalah sang ayah. Dari situ aku langsung ingat ayahku dan tersentuh. Masa iya aku udah sebesar ini dirawat sama beliau masih kasih beban dosa, karena aku tak berhijab,” ungkapnya.

Seketika itu dia memutuskan untuk berhijab. Meski belum menggunakan hijab syari, dia sudah mulai menggunakan hijab ketika keluar rumah maupun menerima tamu di rumahnya.

Selalu berbuat baik adalah prinsip dari perempuan yang hobi membaca buku ini. Sebab,  bagi dia dengan selalu berbuat baik, dia dan keluarga akan dikelilingi oleh orang-orang baik. (gis/bun)

(rs/gis/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia