Rabu, 19 Jun 2019
radarsolo
icon featured
Features

Menelusuri Modus Jebakan Lowongan Pekerjaan lewat Iklan Fiktif

07 Juni 2019, 07: 15: 59 WIB | editor : Perdana

Menelusuri Modus Jebakan Lowongan Pekerjaan lewat Iklan Fiktif

Selebaran iklan lowongan pekerjaan tertempel di tiang listrik atau alat pemberi isyarat lalu lintas (APILL) masih sering dijumpai di beberapa sudut jalan Kota Bengawan. Bahkan tak jarang iming-iming yang ditawarkan sangat menggiurkan. Padahal, ada sebagian ketika didatangi ternyata fiktif. Berikut penelusuran Jawa Pos Radar Solo.

SEBUAH selebaran iklan tertempel di tiang APILL simpang empat Ngemplak, Banjarsari. Dibutuhkan pegawai jasa lipat amplop dengan upah Rp 400 ribu per hari apabila bisa melipat 100 amlop. Di bawah tulisan tersebut, terdapat nomor telepon yang harus dihubungi. 

Penasaran dengan iklan tersebut, Jawa Pos Radar Solo menelusuri keberadaan tawaran pekerjaan tersebut. Koran ini lantas menghubungi nomor yang tertera dalam iklan tersebut. Setelah sempat beberapa kali tidak direspons, akhirnya ada yang mengangkat nomor tersebut. Dari hasil percakapan lewat telepon, pria tersebut mengaku bernama Krisna yang mengatakan koordinator cabang Solo perusahaan amplop yang berpusat di Surabaya.

“Kalau mas mau bergabung dengan kami caranya gampang. Mas tinggal datang saja ke kantor cabang kami, namun sebelum saya berikan alamat kantor, mas transfer dulu Rp 200 ribu sebagai uang administrasi pendaftaran pegawai baru. Nanti kalau sampai sini tidak usah bayar pendaftaran lagi, tinggal ikut pelatihan sehari, terus dikasih bahan amplop yang akan dilipat,” ujar pria tersebut dibalik telepon.

Pria ini juga sedikit menjelaskan sistem pekerjaan yang diterapkan, di mana pekerja tinggal datang ke kantor, kemudian bahan dibawa pulang untuk dikerjakan di rumah. Setelah 100 amplop selesai pekerja tinggal datang lagi ke kantor menyetorkan amplop yang rampung terlipat dan mendapatkan upah sesuai yang tertera pada pamflet tersebut.

Di akhir percakapan, pria tersebut lantas mengirimkan nomor rekening atas nama Krisna Mahendra. Koran ini lantas mentrasfer sejumlah uang yang diminta, kemudian mengirim ulang resi bukti transfer. Tidak lama kemudian, pria ini mengirimkan alamat yang berada di kawasan Kepatihan Kulon, Kecamatan Jebres lengkap dengan shareloc. “Datangnya antara pukul 08.00 sampai 6.00 ya mas. Sesuai jam kantor,” balas pria tersebut melalui aplikasi WA.

Koran ini lantas mendatangi alamat yang dimaksud. Namun yang terjadi, ketika mendatangi alamat yang tertera, ternyata tidak ada perusahaan amplop. Alamat tersebut merupakan rumah salah seorang warga bernama Saptono Hadi. “Cari siapa mas, maaf mas salah alamat. Di sini bukan tempat lipat amplop,” ujar Sri Ningsih Astuti, 45, istri pemilik rumah.

Perempuan yang sehari-hari menjadi ibu rumah tangga ini mengatakan bukan kali ini saja rumahnya didatangi seseorang yang menanyakan apakah rumahnya tersebut merupakan kantor perusahaan lipat amplop. Ibu tiga anak ini mengatakan sudah dua tahun belakangan banyak yang menanyakan hal tersebut. “Kalau tahun lalu jumlahnya berapa lupa, ada yang datang seorang, ada yang kelompok tiga sampai lima orang,” ujarnya.

Kalau tahun ini tidak salah hitung ada sekitar 40 orang datang, tidak berbarengan. Selang hari atau minggu. Sempat saya tulis di depan pagar, bukan tempat lipat amplop, tapi karena sudah ada yang jarang tertipu tulisannya saya lepas, eh malah masnya datang tanya yang sama,” imbuh Ningsih

Dilihat dari perawakan masyarakat yang tertipu, lanjut Ningsih, kebanyakan yang datang merupakan remaja dengan usia sekitar 18-20 tahun. Ada pula yang sudah terlihat berkepala tiga. 

“Rata-rata kalau yang masih muda itu waktu datang ke rumah saya tanya tidak lulus SMP, terus bingung cari kerja apa. Kalau yang sudah agak tua itu biasanya ibu-ibu rumah tangga seperti saya ini,” jelasnya.

Meski begitu, Ningsih secara pribadi prihatin dan kasihan kepada masyarakat yang tertipu dan datang ke rumahnya. “Ya kasihan mas. Sekarang cari kerja itu susahnya minta ampun, eh malah ada yang menawari tapi apus-apus,” ungkapnya.

Hal senada pernah dialami oleh Sari Pertiwi, warga Kelurahan Nusukan, Kecamatan Banjarsari. Ibu dua anak ini juga sempat tertipu dengan modus pengeleman tali teh celup. Namun perempuan ini mengaku pernah bertemu dengan oknum tersebut. “Tetapi ketemunya bukan di rumah atau di kantor, tetapi di rumah makan,” ujarnya.

Waktu itu ketemu dua orang. Satu mengaku manager, dan satu lagi dari bagian keuangan. Mereka minta ketemu di rumah makan dengan alasan kantor sedang direnovasi. Ketika bertemu itu, pelaku menyodorkan surat perjanjian bermeterai, soal hak dan kewajiban. “Anehnya waktu saya minta salinannya tidak dikasih. Katanya mau dikirim dulu ke kantor pusat di Kalimantan,” papar Sari.

Usai membuat menandatangi surat perjanjian tersebut, lanjut Sari, dia diminta membayar uang perdaftaran sebesar Rp 50 ribu, dan uang keanggotaan Rp 400 ribu. Entah apa yang terjadi, Sari menuruti. Setelah membayar uang, dia lantas diberi sekitar 100 lembar selebaran iklan penawaran pekerjaan lipat amlop.

“Saya diminta menawarkan pekerjaan ini kepada orang lain. Katanya karena ini bisnis baru butuh banyak pegawai. Saya turuti saja, kemudian dia pesan kalau sudah habis baru mau dikasih bahan yang harus dikerjakan. Kemudian selebarannya saya sebar saja, ada yang di jalan, ada pas waktu kumpul ibu-ibu PKK,” terang Sari.

Namun setelah pertemuan tersebut, lanjut Sari, dia tidak pernah lagi bertemu dengan orang tersebut. Ketika ditelepon nomor orang tersebut sudah tidak lagi aktif. Sari menceritakan tertarik dengan pekerjaan tersebut untuk mengisi waktu luang di sela-sela membersihkan rumah. “Ternyata malah tertipu. Tapi saya tidak lapor, takut kalau dimarahi suami saya,” katanya. (atn/bun)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia