Minggu, 21 Jul 2019
radarsolo
icon featured
Wonogiri

Generasi Awal Kampung Radiator Belajar dari Bengkel Belanda

08 Juni 2019, 17: 05: 59 WIB | editor : Perdana

Generasi Awal Kampung Radiator Belajar dari Bengkel Belanda

SEJARAH awal mula generasi tukang servis radiator di Malangsari berawal dari Supadi, yang meninggal beberapa tahun lalu. Hingga kini berkembang menjadi ratusan warga mengikuti jejak dia.

Maryanto, 47, salah satu tukang servis radiator mengisahkan bahwa awal mula servis radiator dibawa oleh Supadi. Semula pada 1952, Supadi ikut bekerja di bengkel radiator yang dikelola oleh orang Belanda di Semarang. Cukup lama Supadi ikut bekerja di bengkel radiator itu. “Dia ikut di bengkel Belanda 10 tahunan," kata Mariyanto yang masih keponakan Supadi. 

Setelah mahir, pada 1962, Supadi mulai membuka usaha sendiri sebagai tukang servis radiator di Semarang. Pamannya itu kemudian mengajak adik, sanak famili di Malangsari untuk bekerja di bengkelnya.

“Dia merekrut adik-adiknya, diajari caranya servis radiator. Setelah bisa adik-adiknya mahir, lalu masing-masing buka bengkel sendiri dan mengajak sanak famili lainnya. Warga Malangsari ini masih saudara semua,” ujar Mariyanto yang membuka bengkel servis radiator di Jogjakarta ini.

Cara menghitung generasi tukang servis radiator berbeda dengan generasi keturunan dalam keluarga. Tapi dihitung dari rekrutan yang berhasil membuka usaha sendiri seperti layaknya MLM.

“Misalnya, saya ini sudah punya lima generasi. Dulu saya ikut almarhum Supadi, lalu buka sendiri, saya lalu mengajak saudara, kemudian saudara saya buka sendiri, akhirnya mengajak orang, lalu orang yang diajaknya buka sendiri dan seterusnya,” ujarnya.

Kini sudah ratusan warga Malangsari menjadi tukang servis radiator. Di masing-masing kota ada kelompok arisan atau paguyuban. Di Jogjakarta saja ada dua kelompok, yakni kelompok senior sepantaran Maryanto dan kelompok yunior generasi di bawah dia.

“Di Jogja sini, kelompok arisan saya ada 30 anggota seangkatan dengan saya. Lalu yang muda-muda ada 30 orang juga,” katanya.

Kelompok paling besar di grup whatsapp beranggotakan r 130 orang. Anggotanya dari seluruh Indonesia. Mereka kesulitan berkumpul karena tersebar di kota-kota hingga luar Jawa.

“Kalau grup besar itu kan kalau kumpul dari seluruh Indonesia. Makanya kontribusi kita kan mendukung pembangunan di kampung. Mau bangun apa begitu kita support dana,” ujarnya.

Hanya saja, saat ini Maryanto tidak punya generasi lagi. Di Jogjakarta dia hanya mengelola sendiri bengkel servis radiatornya. “Malangsari sudah habis anak-anak mudanya. Karena yang merantau kan sudah beranak pinak di perantauan. Jadi mereka sudah tidak tinggal di Malangsari lagi,” katanya. (kwl/bun)

(rs/kwl/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia