Kamis, 14 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Klaten

Kesenian Gejog Lesung yang Tak Tergerus Zaman

08 Juni 2019, 10: 50: 59 WIB | editor : Perdana

[19:53, 10/6/2019] +62 813-2727-4008: Kelompok Gejog Lesung Mekar Sari asal Desa Barepan, Kecamatan Cawas

[19:53, 10/6/2019] +62 813-2727-4008: Kelompok Gejog Lesung Mekar Sari asal Desa Barepan, Kecamatan Cawas (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

Komitmen masyarakat Desa Barepan, Kecamatan Cawas mempertahankan kesenian tradisional layak dipuji. Di desa ini, permainan musik perkusi menggunakan alat penumbuk padi tradisional yang dinamakan gejog lesung tetap eksis.

ITU terlihat dari kepemilikan gejog lesung yang tersebar di 11 RW dan terbentuknya 12 kelompok pemain gejog lesung yang hampir setiap malam berlatih menabuh dan olah vokal menyanyikan beragam lagu daerah.

Kepala Desa Barepan Irmawan Andriyanto mengungkapkan, eksistensi gejog lesung juga ditandai gelar festival setiap tahun. Berawal dari tingkat kecamatan, kini sudah menjadi agenda tahunan Pemkab Klaten.

“Kami selalu berusaha memberikan semangat kepada warga agar tidak pernah bosan. Setiap kali datang ke RW, selalu saya titipkan pesan untuk terus mengembangkan gejog lesung,” jelasnya.

Sebagai bentuk komitmen mengembangkan gejog lesung secara all out, pihak desa menganggarkan Rp 10 juta per tahun dari pendapatan asli desa (PAD). “Memang masih kecil (nominal,Red). Tetapi terus kita dukung dengan berbagai bentuk kegiatan. Mulai dari mengadakan perlombaan gejog lesung tingkat desa. Maupun saat mereka tampil di berbagai event,” urai Irmawan.

Diakuinya, gejog lesung mampu bertahan karena ada dukungan dari warga. Terlebih mayoritas penduduk setempat adalah petani dengan potensi lahan pertanian mencapai 500 patok (1 patok: 1.800 meter persegi).

“Kita memang ingin mengangkat potensi gejog lesung. Hal ini yang akan menjadi pembeda dengan desa lain di Klaten. Bahkan tahun ini akan dibangun monumen gejog lesung dengan tinggi sekitar sepuluh meter di lapangan Desa Barepan. Lokasi itu nantinya dijadikan alun-alun oleh pemkab,” jelasnya.

Bagaimana dengan regenerasi pemain?? Irmawan mengatakan bukan menjadi masalah. Sebab saat ini sudah terbentuk kelompok gejog lesung yang seluruhnya berisikan anak muda. Mereka dibina guna menumbuhkan kecintaan pada potensi desa, termasuk gejog lesung.

Salah seorang pemuda Desa Barepan yang mulai tertarik dengan gejog lesung adalah Ari Nugraha Waluya Jati, 24. Awalnya, dia sekadar menyaksikan warga yang didominasi orang tua berlatih memainkan kesenian tradisional tersebut. Suara yang ditimbulkan dari lesung dan alu membuatnya jatuh cinta.

“Sempat mencoba memainkannya. Ternyata susah juga untuk bisa seirama. Tetapi saya ingin terus berlatih sehingga bisa bermain secara berkelompok,” ungkap dia.

Menurut Ari, para penabuh gejog lesung di desanya rata-rata berusia 50 tahun. Sebab itu, dia ingin ambil bagian menjadi penerus pelestari kesenian tradisional. (ren/wa)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia