Rabu, 13 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Sepak Bola

Kantong Tipis Jadi Momok Utama Klub Ikut Berlaga

09 Juni 2019, 17: 05: 59 WIB | editor : Perdana

Kantong Tipis Jadi Momok Utama Klub Ikut Berlaga

PERSIWI Wonogiri yang cukup lama vakum dari kompetisi Liga Indonesia punya harapan untuk eksis  musim ini sebenarnya. Namun ada sebuah kesepakatan yang sepertinya tak sesuai harapan, yang membuat manajemen Magenta FC asal Kudus yang membentuk tim Persiwi memutuskan batal berkompetisi di Liga 3 Jateng.

Jauh sebelum keputusan itu muncul, Manajer Persiwi Suliantoro memang mengakui tak ada koordinasi yang bagus antara pihaknya dengan pengurus lokal di Wonogiri. ”Saat latihan pun pengurus lama Persiwi maupun PSSI Wonogiri tak ada yang hadir datang. Koordinasi saya dengan pihak lokal sana memang tak berjalan dengan lancar. Saya beranggap seperti kerja sendiri, padahal niatnya hanya bantu-bantu hidupkan Persiwi. Niat awal saya ke Wonogiri, kan inginnya mengibarkan bendera Magenta FC. Tapi karena tak dapat welcome dari mereka, akhirnya saya mengalah bangun Persiwi,” terangnya.

Pengurus Askab PSSI Wonogiri memang mengakui bahwa musim ini pengurus tak memiliki niat awal untuk mendaftarkan Persiwi. Alasan utamanya karena askab tak memiliki dana untuk mengikutkan Persiwi di Liga 3. 

Kendala pendanaan juga dirasakan oleh klub asal eks-Karesidenan Surakarta lainnya. Yakni PSIK Klaten, Persis Muda Gotong Royong (GR) Solo, dan Persiharjo Sukoharjo. Untuk Persika Karanganyar, sepertinya masalah utamanya adalah kepengurusan PSSI di kabupaten ini dirasakan belum ada pergerakan nyata  untuk menghidupkan kembali Persika yang sudah lama tertidur lelap.

Wacana peremajaan Stadion Angkata 45 pertengahan tahun ini, tentu jadi angin segar untuk kembali hidupnya Macan Lawu (julukan Persika). Walaupun tetap, pendanaan tentu bisa saja menjadi kendala tim yang terakhir kali berkiprah di Liga Indonesia 2012 silam tersebut, jika tidka juga ikut dicarikan solusinya.

Persiharjo sempat membuka pintu klub luar yang mau menghidupkan tim ini, dalam format merger. Hal ini sempat dilakukan, saat Persiharjo merger dengan perguruan tinggi Unsa di tahun 2015-2016 silam.  

Ketua Askot PSSI Solo, Paulus Haryono tak menampik bahwa masalah pendanaan jadi kendala sebuah klub amatir untuk bisa eksis. ”Kita tak ada investor musim ini, dan sepertinya harus kembali vakum tak berkompetisi. Tanpa ada sponsor maupun investor, cukup berat untuk bisa ikut serta berkompetisi, mengingat pendanaan di Liga 3 juga cukup besar budgetnya,” jelas Paulus. 

Tahun 2016 Persis GR sempat mendapatkan investor dari salah satu pengusaha. Yang membut tim ini sempat mendatangkan pelatih ternama Eduard Tjong, dan beberapa pemain potensial. Sayangnya seiring gagalnya tim ini menggapai target promosi di tahun tersebut, membuat pihak sponsor akhirnya tak melanjutkan kerja sama di tahun berikutnya. Situasi ini membuat klub yang berdiri pada 2015 tersebut sejak 2017 memutuskan vakum berkompetisi. (nik)

(rs/NIK/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia