Senin, 18 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Klaten
Mengintip Persiapan Proyek Tol Solo-Jogja

Waswas Tunggu Kepastian, Lahan Subur Terancam Terkubur

09 Juni 2019, 13: 05: 59 WIB | editor : Perdana

DIINCAR PROYEK TOL: Lahan pertanian di Dusun Grejegan, Desa Kebondalem Lor, Kecamatan Bayat tumbuh subur. 

DIINCAR PROYEK TOL: Lahan pertanian di Dusun Grejegan, Desa Kebondalem Lor, Kecamatan Bayat tumbuh subur. 

Share this      

LAHAN di Dusun Grejegan, Desa Kebondalem Lor, Kecamatan Prambanan, Klaten disebut-sebut merupakan salah satu lokasi yang akan dilintasi proyek strategis nasional  jalan tol Solo-Jogja. Hal itu diperkuat dengan adanya survei yang pernah dilakukan pada 2018. Meski begitu kepastian akan dilintasi jalan tol belum ada kejelasan hingga saat ini.

Jawa Pos Radar Solo sempat ke Dusun Grejegan untuk melihat lebih dekat daerah yang diprediksi dilintasi jalan tol tersebut. Menemui seorang petani, Wagiman, 45, warga Dusun Grejegan, Desa Kebondalem Lor yang sedang mengolah persawahan.

“Kalau survei di Dusun Grejegan sendiri baru-baru ini malah belum mendengar. Tetapi sejak zaman Presiden Soeharto pada 1993 pernah diukur untuk pembuatan jalan tol. Namun hingga saat ini belum ada realisasinya juga,” jelas Wagiman,

Lebih lanjut, Wagiman mengungkapkan, jika harga tanah di dusunnya masih terbilang normal. Belum ada lonjakan harga yang berarti meski disebut-sebut akan dilintasi jalan tol. Dirinya memberikan gambaran jika harga tanah pada lahan persawahan di Dusun Grejegan mencapai Rp 350 ribu hingga Rp 400 ribu per meter persegi.

“Untuk harga tanah yang ada di pinggir Jalan Prambanan-Manisrenggo tentunya lebih mahal. Harganya bervariasi, lebih dari Rp 400 ribu tentunya. Soalnya kaitannya dengan akses jalan,” jelas Wagiman.

Di sisi lain, Wagiman juga memberikan gambaran untuk satu patok persawahan dengan lahan seluas 1.800 meter persegi bisa dijual dengan harga mencapai Rp 1 miliar. Meski begitu, untuk harga tanah di wilayahnya hingga saat ini belum terpengaruh dari rencana jalan tol tersebut.

Wagiman sendiri sebenarnya kurang setuju dengan proyek jalan tol itu jika melintasi lahan yang subur. Meski begitu dirinya menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah jika akhirnya melintasi daerahnya. Terlebih lagi lahan persawahan yang sedang dikerjakannya itu bukan miliknya melainkan tanah kas desa.

“Ya, cukup disayangkan sampai benar-benar dilintasi jalan tol. Soalnya tanahnya cukup subur hingga bisa panen sampai dua kali untuk padinya. Termasuk saat menanam yang lainnya,” jelasnya.

Kepala Desa Kebodanlem Lor, Agus Nugroho membenarkan jika lahan di Grejegan dan sekitarnya pernah dilakukan survei beberapa bulan lalu. Meski begitu, lahan yang disurvei itu lebih didominasi berupa persawahan.

“Memang kalau dilihat ya di persawahan yang merupakan lahan produktif. Untuk harga tanahnya sekitar Rp 300 ribu hingga Rp 400 ribu persegi,” jelasnya.

Dia menyerahkan sepenuhnya kepada masing-masing pemilik tanah ketika akhirnya memasuki tahapan pengadaan lahan untuk jalan tol. Meski begitu, dirinya memprediksi tidak akan menemui kendala saat pengadaan lahan dilakukan. Mengingat warga akan senang jika tanah yang dimiliki warga itu nanti akan dibeli pemerintah pusat. (ren/bun)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia