Minggu, 20 Oct 2019
radarsolo
icon featured
Karanganyar

Menelisik Penyebab Tawangmangu Yang Tak Sedingin Dulu

Penginapan Menjamur, Kawasan Hijau Berkurang

09 Juni 2019, 12: 00: 59 WIB | editor : Perdana

Menelisik Penyebab Tawangmangu Yang Tak Sedingin Dulu

Siapa yang tak kenal dengan Tawangmangu? Kawasan wisata di sebelah barat Gunung Lawu Kabupaten Karanganyar ini sudah terkenal dengan panorama alam dan udaranya yang sejuk. Namun, Tawangmangu yang identik dengan objek wisata Air Terjun Grojogan Sewu tersebut mulai terasa panas. Apa penyebabnya?

KAWASAN wisata Tawangmangu berada di daerah pegunungan yang subur dengan dikelilingi hutan dan perbukitan. Keindahannya sudah dikenal hingga ke mancanegara. Namun, kesejukan udara Tawangmangu mulai terkikis. Dinginnya udara tak lagi dirasakan seperti dulu.

“Tawangmangu sekarang berbeda dengan dulu. Sekarang banyak sekali bangunan – bangunan vila, hotel yang menjulang tinggi yang mengurangi kawasan hijaunya,” kata Triana, salah seorang pengunjung Tawangmangu. 

Senada diungkapkan Warsito. Setelah beberapa tahun merantau ke ibu kota dan berniat menyejukkan diri ke Tawangmangu, dia kaget dengan perubahan yang terjadi saat ini. Pasalnya, lukisan pemadangan alam yang bisa dilihat dan udara sejuk yang dirasakan, kini terhalang dengan adanya bangunan – bangunan penginapan.

“Berbeda mas, dulu saya bisa melihat pemandangan di pinggir jalan dengan leluasa. Udaranya juga masih sejuk meskipun baru masuk ke kawasan Tawangmangu. Tapi kini untuk merasakan udara itu, kita harus naik ke tempat yang lebih atas seperti Cemoro Kandang,” ucapnya. 

Tokoh pemuda Kabupaten Karanganyar, Aaan Sophuanudin menilai perubahan suhu udara di Tawangmangu sangat terasa dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir. Dimungkinkan karena global warming atau pemanasan global. Tidak dipungkiri ketika berkunjung langsung ke Tawangmangu akan merasakan perbedaan suhu dibanding lima tahun lalu. 

“Di Tawangmangu saat ini banyak berdiri penginapan baru yang tentunya menggusur keberadaan pohon dan tumbuhan penyejuk udara di waktu dulu. Pertumbuhan industri pariwisata ini juga menggeser ciri khas Tawangmangu sebagai tempat ngadem. Karena udara sejuk tidak akan dirasakan lagi di Tawangmangu,” jelas Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Karanganyar itu.

Aan berharap kondisi itu menjadi perhatian khusus pemerintah. Apalagi beberapa hutan di kawasan Tawangmangu masih menjadi bagian dari wilayah Perhutani. Menurutnya,, pemerintah harus melakukan pengawasan dan monitoring terhadap pengembangan usaha ataupun pengembangan lokasi – lokasi baru yang mengancam ekosistem alam Tawangmangu. 

“Perda RTRW (rencana tata ruang wilayah,Red) Kabupaten Karanganyar harus segera dibenahi dan dirumuskan lagi. Sebagai dasar regulasi tata ruang lingkungan hidup agar tetap terjaga. Selanjutnya pengawasan dan penegakan hukum semakin ditingkatkan sebagai pelaksana amanat undang-undang,” tandasnya. (rud/adi)

(rs/rud/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia