Jumat, 19 Jul 2019
radarsolo
icon featured
Karanganyar
Menelisik Tawangmangu Yang Tak Sedingin dulu

Penginapan Tak Sepenuhnya Milik Warga Lokal

09 Juni 2019, 14: 10: 59 WIB | editor : Perdana

Penginapan Tak Sepenuhnya Milik Warga Lokal

MENJAMURNYA penginapan baru dan restoran di Tawangmangu tak dibantah Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Cabang Karanganyar. Penyebab munculnya penginapan baru dimulai sejak dibukanya pasar bebas.

Penasehat PHRI Kabupaten Karanganyar, Karwadi mengungkapkan, pihaknya sampai saat ini tidak bisa membendung investor besar yang akan membuka usaha penginapan baru di kawasan Tawangmangu. Apalagi setelah diberlakukannya persaingan pasar bebas menjadikan Tawangmangu diserbu investor dari dalam maupun luar negeri. Beberapa pemilik hotel dan restoran kebanyakan justru bukan warga setempat. Melainkan sejumlah pengusaha – pengusaha asal Solo, Semarang, Bandung hingga Jakarta. Konsekuensinya bisa mengancam ekosistem dan kondisi alam yang semakin panas.

“Bagaimana kita mau membendungnya. Sedangkan persaingan pasar bebas semakin lama semakin besar. Pengelola vila, hotel, restoran yang kelasnya kecil dan menengah lambat laun akan mengalami lesu, dan bahkan terancam mati,” terang anggota DPRD Karanganyar tersebut. 

Menurutnya, pembangunan penginapan baru sudah merambah ke daerah yang selama ini jadi kawasan hijau. Seperti Sekipan, Gondosuli hingga jalur tembus Cemoro Kandang – Cemoro Sewu. Apalagi kaasan itu menjadi salah satu lokasi favorit wisatawan yang ingin berkunjung ke kaki bukit Gunung Lawu tersebut. 

“Lihat saja di wilayah Sekipan. Kemudian di sepanjang jalur alternatif menuju ke Cemoro Kandang – Cemoro Sewu, bangunan – bangunan modern mulai terlihat. Kalau di dekat lokasi Grojogan Sewu memang cenderung bangunan hotel. Tapi kalau di Sekipan dan jalur tembus, cenderung lokasi wisata baru dan restoran,” jelasnya. 

Camat Tawangmangu Rusdiyanto mengaku pengembangan lokasi wisata, hotel, vila dan resto menjadi wewenang pemerintah daerah dan pemerintah provinsi. Pasalnya semua perizinan masuk melalui satu pintu.

“Hanya beberapa yang melalui pemerintah daerah, terutama yang berada di dalam kawasan Tawangmangu. Akan tetapi kalau yang ada di sejumlah pinggir jalan mulai dari pasar Tawangmangu sampai ke Cemoro Kandang – Cemoro Sewu itu menjadi wewenang dari provinsi ataupun Perhutani,” tandasnya. (rud/adi)

(rs/rud/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia