Rabu, 24 Jul 2019
radarsolo
icon featured
Klaten
Pengembangan Kawasan Wisata Batik Banjarkeluk

Promosi Kurang Greget, Butuh Showroom

09 Juni 2019, 09: 35: 59 WIB | editor : Perdana

PEWARNA ALAMI: Perajin sedang menyelesaikan pembuatan kain batik tulis di Desa Jarum, Kecamatan Bayat yang merupakan salah satu sentra batik di Klaten.

PEWARNA ALAMI: Perajin sedang menyelesaikan pembuatan kain batik tulis di Desa Jarum, Kecamatan Bayat yang merupakan salah satu sentra batik di Klaten. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

KERAJINAN batik pewarna alam terus menggeliat, khususnya di Kecamatan Bayat. Sejak akhir Desember 2017, telah dibentuk kawasan wisata batik Banjarkeluk. Sayang, pengembangannya masih jalan di tempat.

PEMBENTUKAN kawasan wisata batik Banjarkeluk berdasarkan surat keputusan (SK) bupati. Merujuk pada pengintegrasian empat desa yang sama-sama memiliki potensi batik. Yakni Desa Banyuripan, Jarum, Kebon, dan Beluk.

Konsepnya, dikembangkan lewat pendirian sebuah showroom. Di dalamnya akan menampung produk batik dengan berbagai motif dari empat desa tersebut. Namun hingga sekarang, realisasi jauh panggang dari api. Realisasi pembangunan showroom belum juga terwujud.

”Memang sejak dulu Desa Jarum dikenal sebagai sentra batik pewarna alam. Tetapi saya melihat promosinya kurang, sehingga perlu dibantu untuk promosinya. Agar wisatawan tahu, jika di Kecamatan Bayat itu ada sentra batik pewarna alam,” jelas Bupati Klaten Sri Mulyani kepada Jawa Pos Radar Solo.

Lebih lanjut bupati menegaskan, Dinas Perdagangan, Koperasi dan UMKM (Disdagkop UMKM) Klaten bertugas membantu pengembangan batik di Bayat tersebut. Sekaligus mendongkrok jumlah kunjungan wisatawan yang datang ke sentra batik. Harapannya, berbagai produk batik yang bervariasi itu dapat diminati, baik skala nasional maupun internasional.

Bupati memandang, letak geografis Desa Jarum dan sekitar yang dikelilingi perbukitan menjadi handicap tersendiri. Terutama pada pemasaran yang dinilai kurang maksimal. Tetapi pemkab menjanjikan tahun ini, akan memberikan bantuan berupa pendirian showroom.

”Melalui bantuan keuangan khusus, kami akan bantu pembangunan showroom untuk menjual hasil industri tersebut. Ada produk batik, lurik, hingga kerajinan lainnya. Nanti showroom dibangun di Desa Beluk. Nanti ada sejumlah booth untuk masing-masing desa,” ucapnya.

Perajin batik asal Desa Jarum Kasmi, 47, menyambut positif rencana pendirian showroom tersebut. Mengingat kendala utama para perajin terkait pemasaran produk. ”Bagus kalau dijadikan satu dalam satu showroom. Karena masing-masing telah memiliki kekhasan tersendiri terkait motifnya. Jadi bisa saling mengisi, ketika wisatawan mencari batik sesuai motif yang diinginkannya,” bebernya.

Belum seluruhnya perajin batik mampu menjual produknya. Maka perlu dijembatani terkait pemasarannya. Tidak sebatas memproduksim, tetapi bisa dijual. Selama ini, perajin batik memasarkan produk batiknya lewat jaringan yang dimiliki. Menyasar pertokoaan di kawasan Kota Solo, Jogja, bahkan hingga ke luar negeri. ”Termasuk melayani pembelian secara online,” ujarnya. (ren/fer)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia