Jumat, 15 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Klaten
Pengembangan Kawasan Wisata Batik Banjarkeluk

Pemasaran Andalkan Aplikasi e-UMKM

09 Juni 2019, 12: 40: 59 WIB | editor : Perdana

BUTUH PEMIHAKAN: Showroom milik Kelompok Batik Kebon Indah di Desa Kebon, Kecamatan Bayat.

BUTUH PEMIHAKAN: Showroom milik Kelompok Batik Kebon Indah di Desa Kebon, Kecamatan Bayat. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

PEMASARAN produk batik asal Kabupaten Klaten bakal dilakukan lewat e-commerce. Dinas Perdagangan Koperasi dan UKM (Disdagkop UKM) Klaten berencana meluncurkan aplikasi e-UMKM, tahun ini. Nantinya, seluruh transaksi produk dari 11 klaster UKM, termasuk batik bisa diakses dengan aplikasi tersebut.

”Batik kan bagian dari klaster yang kami miliki, sehingga perlu diperkuat. Selama ini diikutkan dalam pameran sebagai media promosinya. Tetapi tahun ini, kami akan kembangkan pemasaran produk UMKM secara online,” jelas Kepala Bidang (Kabid) Koperasi dan UKM, Disdagkop UKM Klaten Wahyu Hariadi kepada Jawa Pos Radar Solo.

Sebelumnya, lanjut Wahyu, pihaknya telah memfasilitasi pelatihan pemasaran secara online kepada perajin batik. Mulai dari pelatihan pembuatan website, hingga pemanfaatan media sosial untuk promosi dan penjualan. Tetapi tahun ini, akan dikosentrasikan pada pengembangan pemasaran melalui aplikasi e-UMKM.

Saat ini sedang dilakukan pendataan UMKM yang tersebar di seluruh kecamatan. Mereka berasal dari berbagai klaster, mulai dari batik, lurik, hingga olahan makanan. Ditargetkan Juli mendatang, pendataan rampung. Dilanjutkan input data ke dalam aplikasi.

”Jadi arahnya, bisa diakses seluruh dunia ketika mencari berbagai produk UMKM asal Klaten. Nantinya juga bisa diunduh di Playstore. Di dalamnya hanya berisi para pelaku usaha yang berasal Klaten saja. Dari luar daerah tidak bisa masuk,” bebernya.

Wahyu optimistis, strategi pemasaran yang akan diterapkan nanti bisa mendongkrak penjualan UMKM di Klaten. Termasuk batik pewarna alami asal Kecamatan Bayat yang selama ini sudah dikenal kualitasnya. Harapannya mampu membantu perajin batik dalam mengenalkan hasil produksi ke masyarakat luas, sehingga terjadi transaksi penjualan.

Dalam APBD Perubahan 2019, Wahyu berencana mengajukan pengadaan server untuk menampung data UMKM yang dimasukan dalam aplikasi. Untuk menunjang e-UMKM, diperlukan sarana dan prasarana memadai. Mengingat data yang akan disimpan nantinya berasal dari puluhan ribu UMKM di Klaten.

”Transaksi penjualan batik di Klaten tanpa showroom saja, omzetnya bisa mencapai Rp 10 miliar. Harapannya batik di Klaten terus tumbuh dan berkembang. Sekaligus branding motif khas Klaten dapat terwujud. Diperkuat dengan sistem pemasaran yang kami miliki ini,” terangnya.

Mendukung pengembangan batik dari sisi pemasaran, dilakukan pengautan daya saing dan inovasi produk. Tahun ini, akan diberikan pelatihan dan pengembangan motif. Khususnya motif khas Klaten yang saat ini masih dalam proses desain.

Perajin batik asal Desa Kebon Marsinah, 55, mengaku kelompoknya rutin mengikuti pameran di berbagai daerah. Belum lama ini, mereka sampai ke Jakarta. ”Selain pameran, kami juga membuka showroom di desa. Pembeli bisa datang dan memilih batik sesuai motif yang diinginkan. Termasuk penjualan melalui WhatsApp,” ujarnya. (ren/fer)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia