Jumat, 19 Jul 2019
radarsolo
icon featured
Klaten
Pengembangan Kawasan Wisata Batik Banjarkeluk

Desa Jarum Paling Mapan

09 Juni 2019, 17: 10: 59 WIB | editor : Perdana

BERSAING: Proses penjemuran kain batik di Desa Jarum, Kecamatan Bayat.

BERSAING: Proses penjemuran kain batik di Desa Jarum, Kecamatan Bayat. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

RENCANA pengembangan kawasan wisata Batik Banjarkeluk yang terdiri dari Desa Banyuripan, Jarum, Kebon, dan Beluk mendapatkan sambutan positif dari kalangan perajin. Sarwidi, 44, perajin batik asal Desa Jarum, Kecamatan Bayat berharap pembangunan showroom segera direalisasikan. Ditunjang dengan berbagai fasilitasi memadai. Dia juga mengklaim produksi batik Desa Jarum lebih mapan dibanding tiga desa lainnya.

Desa Jarum sudah menjadi desa wisata sejak 2014. Bahkan sudah memiliki showroom khusus batik sendiri. Showroom ini untuk menampung hasil produksi perajin setempat.

”Produksi batik di Desa Jarum sudah lengkap. Ketika ada event-event tertentu, showroom yang ada di balai desa juga dibuka. Bahkan tiap hari selalu ada kunjungan wisatawan dari berbagai daerah,” klaim Sarwidi kepada Jawa Pos Radar Solo.

Pengembangan produk batik di Desa Jarum cukup pesat. Baik dalam bentuk kelompok maupun perorangan. Jenis produk tak sebatas kain semata. Juga membuat produk batik dengan media kayu dan sepatu. Pemasaran produk bahkan sudah merambah ke pasar luar negeri.

”Saya sebagai perajin batik mendukung upaya pengembangannya. Pertama begini, misalnya dibuka showroom, ya ikut senang dan bangga. Apalagi jika diminta mengisi produknya. Jadi, pemasarannya lebih luwes di tingkat lokal,” beber Sarwidi.

Hadirnya showroom dapat memacu peningkatan kuantitas dan kualitas produksi batik itu sendiri. Meski setiap desa memiliki produk yang sama, tetapi motifnya berbeda. Punya ciri khas masing-masing. Memberi banyak pilihan kepada wisatawan ketika hendak membeli.

”Showroom sangat dibutuhkan perajin. Terutama para pelaku usaha mikro kecil ke bawah yang terkendala pemasaran. Paling tidak ada sinergitas dan saling mendukung di antara empat desa tersebut,” tandasnya.

Sarwidi menambahkan, selain tempat promosi, showroom bisa dikembangkan untuk pengadaan bahan baku bagi perajin. Fasilitas tersebut akan semakin memudahkan perajin mendapatkan bahan baku.

Sementara itu, Arini, 40, perajin batik asal Desa Kebon menyebut letak show room milik kelompok batik Kebon Indah kurang strategis. Berada di tengah perkampungan. Jauh dari jalan utama Kecamatan Bayat. Dia berharap pengembangan kawasan batik Banjarkeluk segera direalisasikan.

”Kalau belum tahu lokasi showroom, pasti wisatawan bingung. Memang agak jauh dari jalan utama. Tetapi ada juga yang datang langsung ke showroom,” jelas Arini. (ren/fer)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia