Senin, 09 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Sragen
Keteladanan Warga Jaga Eksistensi Budaya Jawa

Swadaya Bentuk Paguyuban, Lahirkan Pambyawara Muda

09 Juni 2019, 11: 15: 59 WIB | editor : Perdana

Swadaya Bentuk Paguyuban, Lahirkan Pambyawara Muda

Kegiatan masyarakat dalam melestarikan Bahasa Jawa saat ini sudah sulit ditemui. Apalagi pemahaman tentang tata cara adat istiadat budaya Jawa di sebagian masyarakat Sragen sudah menurun. Namun warga Desa Jambanan, Kecamatan Sidoharjo masih gigih dan tekun melestarikan udaya Jawa ini dengan membentuk paguyuban kampung budaya.

MASYARAKART Desa Jambanan tengah giat mempelajari pambyawara atau pembawa acara berbahasa Jawa dan kesenian tari. Ketika Jawa Pos Radar Solo berkunjung ke pendapa Balai Desa Jambanan, kebetulan tengah digelar pelatihan untuk pambyawara bagi sejumlah pemuda. Ada belasan warga formasi duduk melingkar. Tampak sebagian yang hadir sudah berusia di atas 40 tahun. Namun ada beberapa yang masih cukup muda. Mereka terlihat antusias mengikuti latihan.

Desa Jambanan berlokasi tidak terlalu jauh dari pusat kota Sragen. Hanya sekitar 5 kilometer dari kota. Desa tersebut sudah banyak tersentuh pembangunan oleh pemerintah. Selain itu, pemberdayaan masyarakat cukup bagus.

Termasuk upaya melestarikan budaya Jawa. Warga sekitar lantas mulai membentuk Paguyuban Kampung Budaya Brojodento Desa Jambanan. Paguyuban ini rutin menggelar pelatihan dan pembelajaran tentang budaya Jawa.

Ketua Paguyuban Joko Suyatno menyampaikan, gagasan membentuk paguyuban lantaran tergugah melihat budaya Jawa yang semakin kurang diminati. Padahal banyak nilai luhur yang bisa diaplikasikan dalam kehidupan.

”Di sini kami memberi pembelajaran pambyoworo, seni tari, seni karawitan dan seni music. Dan nanti rencananya terus berkembang ke seni peran seperti ketoprak dan musik,” terang Joko.

Meski baru berdiri, namun anggota terdiri berbagai latar belakang. Mulai dari pemuda karang taruna sampai tokoh seni desa setempat. Budayawan seni karawitan sekaligus pengajar SMK 1 Sragen ini menjelaskan saat ini ada 21 pengurus paguyuban yang terbentuk pada 12 April 2019 lalu.  

”Dari angan-angan membentuk paguyuban ini, kemudian ketemu anak muda desa bersama kepala desa akhirnya terbentuk paguyuban ini. Anggota yang ingin gabung terbuka bagi siapa saja,” ujarnya.

Dia menjelaskan tujuan awal membentuk paguyuban ini untuk meningkatkan sumber daya manusia dengan mendalami budaya Jawa. Diharapkan dengan keterampilan yang dimiliki bakal meningkatan taraf hidup kesejahteraan masyarakat. Misalnya pambyawara yang biasa digunakan dalam upacara pernikahan adat Jawa. Tentu tidak semua orang terampil dan bisa. Demikian juga tari tradisional yang bisa tampil di even pemerintahan. Buktinya, banyak pambyawara yang sudah mampu mandiri menerima tawaran dari masyarakat.

Pertemuan rutin digelar setiap malam Sabtu. Sedangkan kegiatan anak-anak pada Sabtu atau Minggu sore di pendapa kantor Desa Jambanan. Paguyuban ini dibentuk dan dikelola secara swadaya. Pengurus bersama-sama mengeluarkan biaya untuk mengelola. Misalnya menyiapkan hidangan camilan dan kopi untuk menarik warga saat latihan. ”Pertama kumpul memang sulit namun antusias semakin tumbuh,” terangnya. (din/adi)

(rs/din/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia