Senin, 09 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Sragen
Keteladanan Warga Jaga Eksistensi Budaya Jawa

Butuh Ketekunan menjadi Pambyawara 

09 Juni 2019, 16: 10: 59 WIB | editor : Perdana

Butuh Ketekunan menjadi Pambyawara 

Pambyawara menjadi salah satu materi latihan yang banyak diminati di Paguyuban Kampung Budaya Brojodento. Profesi ini mengusung budaya leluhur masyarakat Jawa melalui acara-acara yang digelar. Semakin sering menggunakan jasa seorang pambyawara, semakin banyak peluang untuk memperkenalkan kebudayaan Jawa. Dengan menghadirkan seorang pranatacara di setiap acara pernikahan adat Jawa, acara pernikahan yang dipandu terasa lebih sakral dan khidmat.

Pengajar Paguyuban Kampung Budaya Brojodento, Desa Jambanan, Sutrisno yang juga budayawan Sragen menjelaskan, profesi pambyawara ini terbilang langka. Tidak semua orang bisa dan tertarik untuk menekuninya. Profesi ini membutuhkan keahlian khusus. Harus mampu menguasai dan fasih berbahasa Jawa terutama bahasa Jawa krama inggil. Padahal karma inggil biasa digunakan oleh para dalang dan para priyayi di lingkungan keraton.

”Jadi memang tidak mudah, dan perlu latihan. Tidak hanya anak muda, di sini semua belajar. Butuh menyampaikan tata bahasa yang benar dan sejumlah syarat,” terangnya.

Seperti olah vokal yang bagus dan tepat dalam berbahasa Jawa krama inggil. Selain itu membutuhkan intonasi yang pas, dan pengetahuan sastra Jawa yang baik. Pihaknya menyampaikan banyak hal positif yang dapat dipetik dengan belajar bersama seperti yang dilakuan warga Jambanan ini. (din/adi)

(rs/din/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia