Jumat, 19 Jul 2019
radarsolo
icon featured
Boyolali
Pelaksanaan Pilkades E-Voting di Boyolali

Quick Count sekaligus Real Count

09 Juni 2019, 08: 00: 59 WIB | editor : Perdana

SIMPEL: Masyarakat mengambil struk dari mesin print out printer usai menyalurkan hak suaranya dalam pemilihan kepala desa di Kabupaten Boyolali.

SIMPEL: Masyarakat mengambil struk dari mesin print out printer usai menyalurkan hak suaranya dalam pemilihan kepala desa di Kabupaten Boyolali. (TRI WIDODO)

Share this      

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Boyolali menorehkan sejarah sebagai yang pertama menerapkan pesta demokrasi dengan sistem e-voting. Diterapkan pada pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di 2016 silam. Tinggal menyentuh foto pada layar, hak suara masyarakat otomatis ter-input dalam database panita pilkades.

SEBANYAK 229 desa di Kabupaten Boyolali bakal menggelar pilkades serentak, 29 Juni mendatang. Ada yang menggunakan sistem manual, ada pula yang pakai model e-voting. Mengingat keterbatasan peralatan yang dimiliki.

Namun pada prinsipnya pelaksanaan pilkades melalui e-voting cukup simpel. Pemilih tinggal menyentuh gambar calon kepala desa (kades) pilihannya pada layar touch screen. Suara secara otomatis akan terakumulasi.

Cara seperti ini sudah banyak digunakan di negara-negara maju saat melaksanakan pemilihan umum (pemilu). Hanya saja, untuk pilkades e-voting di Boyolali, pemilih masih harus mendatangi tempat pemungutan suara (TPS) dalam menggunakan hak pilihnya.

Pilkades dengan sistem ini dalam prosesnya lebih mudah, efektif, dan efisien. Sebab panitia pilkades tak perlu lagi melakukan pengadaan surat suara untuk mencukupi kebutuhan logistik. Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dispermasdes) Boyolali Purwanto menyebut e-voting merupakan pemungutan suara dan penghitungan menggunakan teknologi informasi komputer (TIK). Mewujudkan hajat pesta demokrasi di tingkat desa yang transparan, jujur, dan akuntabel.

”Pilkades e-voting ini secara prinsip, menghilangkan teknis manual pada sistem pemilihan konvensional. Seperti surat suara dan penghitungan manual. Rekapitulasi berjalan otomatis dan berjenjang. Prosesnya jadi tidak bertele-tele seperti cara konvensional. Tinggal klik, langsung keluar hasilnya,” kata Purwanto kepada Jawa Pos Radar Solo.

Beda dengan konvensional, hasil penghitungan suara langsung diketahui saat proses pemungutan suara ditutup. Purwanto mengungkapkan, hasil rekapitulasi juga bisa langsung dikirim ke pusat data di tingkat desa.

Setelah hasil penghitungan perolehan suara TPS dicetak, langsung dikirim ke pusat data dan terekapitulasi secara otomatis dan berjenjang. Mulai dari desa/kelurahan, kecamatan, kabupaten, provinsi, dan nasional. ”Jadi, ini selain quick count juga real count. Cepat dan akurat, serta terverifikasi,” tandasnya.

Penghitungan suara pilkades e-voting menggunakan sistem e-rekapitulasi. Purwanto mengaku langkah ini merupakan pilihan yang inovatif dan sangat penting dalam melaksanakan salah satu pilar demokrasi berkualitas. Diharapkan mampu mencegah aspek manipulasi data. Teknologi ini juga bisa ditelusuri sumber kesalahannya. Sehingga diklaim tetap menjamin pemilu yang langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil.

”E-rekapitulasi adalah bagian proses yang paling penting dari e-voting. Tepatnya yaitu proses pengolahan, pengiriman, dan penayangan hasil rekapitulasi perolehan suara pilkades. Jejaknya juga bisa diaudit,” tambah Purwanto.

Karena memang, setiap pemilih yang telah menggunakan hak pilihnya akan diberikan dua lembar struk mirip nota belanjaan. Satu lembar untuk dimasukkan ke dalam kotak suara, dan satu lembar lagi sebagai bukti pemilih. Sehingga apabila terjadi sengketa, dapat dibuktikan melalui mekanisme hukum yang berlaku. ”Selama ini pilkades e-voting di Boyolali belum pernah terjadi gugatan. Harapannya tidak ada,” tandas Purwanto. (wid/fer)

(rs/wid/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia