Kamis, 14 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Wonogiri

Cara Unik Pengurus Taman Baca Giriwoyo Daur Ulang Sampah Plastik

10 Juni 2019, 13: 33: 06 WIB | editor : Perdana

DAUR ULANG: Anak-anak diajari membuat ecobrick di Taman Baca Masyarakat Giriwoyo.

DAUR ULANG: Anak-anak diajari membuat ecobrick di Taman Baca Masyarakat Giriwoyo. (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)

Share this      

Sampah selalu menjadi masalah pascalebaran. Terutama sampah plastik yang sulit diurai. Namun, pengurus Taman Baca Masyarakat (TBM) Syahidah Giriwoyo ini punya solusi mudah untuk mengatasi sampah-sampah itu. Dengan mengajak anak-anak belajar membuat ecobrick. Seperti apa aksinya?

IWAN KAWUL, Wonogiri. 

KEMERIAHAN Lebaran di Taman Baca Masyarakat Syahidah di Desa Kamalan, Kecamatan Giriwoyo, Minggu (9/6) masih terasa. Anak-anak yang biasa membaca, bermain dan belajar di taman baca ini sedang asyik berkegiatan.

“Hari ini (kemarin) ada sekitar 25 anak sekitar TBM yang hadir. Mereka kita ajak belajar membuat ecobrick,” kata Fajar Nur Rohmad, koordinator kegiatan TBM Syahidah, kemarin. 

Pembuatan ecobrick ini merupakan sebuah jawaban atas kegundahan akan banyaknya sampah bungkus makanan usai Lebaran. Banyak rumah tangga yang menghasilkan sampah, baik sampah plastik bungkus makanan ringan atau minuman. Tentu saja, sampah-sampah jenis ini tidak bisa terurai. 

“Kalau sampah yang bilogical seperti daun bisa untuk kompos. Tapi, kalau sampah plastik saat Lebaran kan banyak mas, tidak bisa diurai. Hanya meminimalisasi saja sekaligus mengajari anak untuk peduli lingkungan,” tutur Fajar. 

Ecobrick ini terbuat dari botol plastik yang diisi dengan sampah plastik hingga padat. Cara pembuatan ecobrick tidak bisa cepat meski terlihat sederhana. Di TBM Syahidah sudah disediakan botol plastik bekas air minum kemasan ukuran 600 mililiter. Botol-botol itu kemudian diisi dengan sampah plastik, lalu dipadatkan. Kemudian, botol yang sudah padat ditutup kembali. “Sampah plastik dalam botol harus dipadatkan, biar buat, tidak penyok,” kata Fajar. 

Botol-botol plastik berisi sampah plastik yang sudah dipadatkan. Jika sudah terkumpul banyak bisa diubah menjadi kursi, meja atau bahan kerajinan lain. Bahkan, bisa menjadi bahan bangunan untuk membuat rumah. 

“Untuk membuat satu buah kursi, diperlukan sekitar 20 botol berukuran sama. Tinggal ditata berbentuk kotak saja lalu disatukan. Begitu pula dengan meja,” katanya. 

Proses untuk membuat sebuah kursi, karena yang membuat anak-anak secara bergotong royong diperlukan waktu dua sampai tiga hari. Namun, bukan hasil saja yang ingin diraih, namun pembelajaran bagi anak-anak untuk mengurangi sampah, mengubahnya menjadi barang berfaedah dan yang penting mencintai lingkungan. “Ini baru permulaan saja, tahap pengenalan,” ujarnya.  

Selain mengajarkan keterampilan kepada anak-anak dari daur ulang sampah plastik, Fajar juga mengajak masyarakat agar mengurangi sampah plastik. Sebab, keberadaan sampah-sampah plastik ini akan mencemari lingkungan. “Mengubah sampah plastik menjadi kerajinan ini juga merupakan salah satu upaya kami mengurangi sampah plastik. Sekaligus bisa memberi manfaatkan bagi masyarakat,” ujar dia. (*/bun)

(rs/kwl/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia