Jumat, 15 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Klaten

Bus Jadi Primadona Pemudik

10 Juni 2019, 15: 25: 38 WIB | editor : Perdana

BERJUBEL: Pemudik di Terminal Ir. Soekarno Klaten.

BERJUBEL: Pemudik di Terminal Ir. Soekarno Klaten. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

KLATEN – Moda transportasi bus menjadi pilihan utama para pemudik kembali ke perantauan. Buktinya, terdapat 26.976 penumpang menaiki 897 armada bus, berangkat dari Terminal Tipe A Ir. Soekarno Klaten selama arus mudik dan balik ini.

Lonjakan keberangkatan penumpang dari terminal sudah terjadi pada H+1 Lebaran atau (Kamis (6/5). Terdapat 22.110 penumpang naik 813 armada bus. Jumlah itu kian meningkat sehari berselang (7/6). Terdapat 23.522 penumpang dengan menumpangi 853 bus.

”Saya mau balik ke Bogor. Kebetulan suami asli Bogor. Kenapa pilih naik bus, ya lebih nyaman saja,” kata Triaspita, 40, pemudik asal Kraguman, Jogonalan, Klaten kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (9/6).

MERAYAP: Kepadatan arus lalu lintas di simpang tiga Jatinom, Klaten, kemarin.

MERAYAP: Kepadatan arus lalu lintas di simpang tiga Jatinom, Klaten, kemarin. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Salah seorang staf Terminal Tipe A Ir. Soekarno Klaten Yulianta mengaku pihaknya telah menyiapkan seluruh sarana dan prasarana menyambut arus mudik dan balik. Mulai dari ketersediaan kursi bagi penumpang saat menanti kedatangan bus, hingga kebersihan toilet.

”Rata-rata pemudik balik ke Jakarta dan Jawa Barat. Seperti Bogor, Bandung, Jakarta, dan Tangerang. Sedangkan pemudik tujuan Jawa Timur dilayani bus reguler yang ada,” jelasnya.

Terkait harga tiket, kelas eksekutif dan VIP dibandrol Rp 335-450 ribu tujuan Jakarta, Merak, Tangerang, maupun Bogor. Naik nyaris separo dari harga di hari biasa, Rp 200 ribu untuk jurusan yang sama.

Terpisah, tak hanya jalur arteri Solo-Jogja yang mengalami kepadatan volume kendaraan. Jalur alternatif juga mengalami hal serupa. Salah satunya jalur Jatinom-Boyolali. Titik kepadatan terjadi di simpang tiga Jatinom, kemarin.

Penyebabnya, jalur alternatif ini jadi favorit pemudik untuk menghindari jalur arteri. Mempersingkat jarak dari arah Jogja yang hendak masuk ke gerbang tol Boyolali. Begitu juga sebaliknya, kendaraan yang keluar dari gerbang tol Colomadu juga memilih jalur ini saat hendak menuju Jogja. Menghindari titik kemacetan di Bundaran Kartasura, Sukoharjo.

”Kami tidak bisa memberlakukan rekayasa lalu lintas di jalur Jatinom-Boyolali. Tidak ada jalur alternatif lainnya. Apalagi jalannya sempit,” kata Kasatlantas AKP Bobby Anugrah Rachman mewakili Kapolres Klaten AKBP Aries Andhi.

Jalur arteri Solo-Jogja juga jadi perhatian. Saat terjadi kepadatan volume kendaraan dari arah Solo menuju Jogja, dialihkan melalui jalur alternatif Desa Taji, Kecamatan Prambanan. Langsung menuju ke Piyungan, Sleman.

”Terutama di simpang tiga Prambanan. Jalan di depan pintu masuk TWC Prambanan kami berlakukan contra flow. Dari arah Jogja ke Solo dialihkan melalui Bogem, Sleman. Untuk kepadatan di Delanggu, kami arahkan ke jalur lingkar,” terang Bobby. (ren/fer)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia