Rabu, 19 Jun 2019
radarsolo
icon featured
Features
Pertama di Indonesia

Witri Wahyu Lestari, Doktor Metal Organic Frameworks (MOFs)

12 Juni 2019, 09: 10: 59 WIB | editor : Perdana

Witri Wahyu Lestari, Doktor Metal Organic Frameworks (MOFs)

Indonesia negeri kaya raya, namun dalam hal energi belum bisa sepenuhnya merdeka.Witri Wahyu Lestari memiliki solusi kecil yang dapat diaplikasikan di negeri ini. Apa itu?

IRAWAN WIBISONO, Solo

UNGKAPAN yang keluar dari Witri Wahyu Lestari jamak disampaikan dalam berbagai forum. Misalnya, 'Indonesia memiliki banyak sumber energi namun masih belum mencukupi', 'Negeri ini banyak memproduksi garam namun tetap impor garam'. Termasuk saat mendengar berkali-kali kabar harga bahan bakar minyak (BBM) mengalami kenaikan. Dosen di FMIPA Universitas Sebelas Maret Surakarta ini tak sekadar menggerutu, dia tampil untuk memberi solusi.

“Saya tergerak ingin menciptakan alternatif bahan bakar yang berasal dari negeri sendiri,” katanya, Senin (10/6).

Penerima fellowship dari L'’Oreal-Unesco for Women In Science National 2014 untuk kategori Material Science ini berpikir menciptakan green diesel sebagai bahan bakar. Perempuan  kelahiran Demak 1980 tersebut melihat produksi minyak kelapa sawit Indonesia begitu melimpah, namun tak sampai setengahnya digunakan oleh masyarakat. Sisanya diekspor dengan harga murah. Jika kondisi itu bisa dibalik, hasil perkebunan tersebut termanfaatkan secara lebih optimal untuk kesejahteraan rakyat.

Untuk membuat green diesel, Witri menggunakan olahan minyak kelapa sawit menggunakan katalis zeolite alam termodifikasi. Katalis yang digunakan lebih selektif sehingga bisa menghasilkan energi lebih tinggi. Selama ini, sebetulnya biodiesel sudah diproduksi dan mulai digunakan secara luas. Akan tetapi, biodiesel generasi pertama tersebut masih memiliki sejumlah kelemahan. Salah satu di antaranya masalah kompatibilitas terhadap mesin diesel dan korosi akibat kandungan atom oksigen yang tinggi.

“Green diesel bisa disebut generasi kedua biodiesel. Bahan bakar yang berasal dari hidrokarbon turunan dari minyak nabati yang mengalami proses hidrogenasi ini lebih kompatibel dengan mesin,” terangnya.

Proses tersebut, lanjut Witri, juga membuat kadar oksigen dalam bahan bakar mendekati nol sehingga masalah korosi mesin dapat dihindari. Di samping itu, emisi karbonnya pun lebih rendah. Otomatis, green diesel lebih ramah lingkungan. Gagasan tentang pengembangan green diesel tersebut muncul saat Witri masih menempuh pendidikan S-3 di Universitas Leipzig, Jerman. 

Isu mengenai green diesel ini memang sudah lama. Pemerintah Indonesia sudah mulai membuatnya menjadi energi terbarukan, tapi belum mengembangkannya. Padahal, dengan produksi minyak kelapa sawit yang melimpah bisa membawa Indonesia sebagai salah satu produsen terbesar biodiesel. Witri pun bertekad untuk mendedikasikan waktu dan pemikirannya untuk membuat Indonesia tak lagi bergantung pada negara lain dalam pemenuhan kebutuhan bahan bakar.

“Rasaya ingin menangis melihat kendaraan bermotor banyak, tapi bahan bakarnya hasil subsidi,” ujar peraih OWSD Elsevier-Foundation Awards for Early Career Woman Scientists in the Developing World 2018.

Dalam pengembangan green diesel dengan menggunakan katalis zeolite ini, Witri melibatkan mahasiswa dalam penelitiannya. Selain itu, dia juga menjalin kerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB). Dia memasang target untuk bisa merampungkan risetnya sebelum 2025, bertepatan dengan target pemerintah dalam konsumsi energi terbarukan.

“Saya tahu prosesnya panjang, tetapi saya tetap optimistis,” tegasnya.

Selain meneliti energi terbarukan, sebagai doktor di bidang MOFs pertama di Indonesia, Witri juga melakukan pengabdian masyarakat di tanah kelahiran. Lahir dan tumbuh besar di Demak, kehidupan Witri sangat dekat dengan alam. Dia masih ingat betul rasanya bisa menyantap makanan sehat dari kebun sendiri. Dia juga melihat bagaimana masyarakat di kampungnya memproduksi garam. Ironisnya, panen garam selalu melimpah, namun pemerintah terus impor garam dari luar negeri.

“Semester depan saya pengabdian di Demak tentang varian produk garam. Sebelumnya saya mengerjakan pengabdian tentang peningkatan kualitas dan kuantitas garam,” jelasnya.

Witri berharap ada sinergi antara peneliti dengan pemerintah sebagai pengambil kebijakan. Selain itu juga dibutuhkan kerja sama dengan pelaku industri agar penelitian yang dilakukan akademisi dapat diterapkan di lapangan. (*/bun)

(rs/irw/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia