Rabu, 13 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Uji Coba PPDB SMA, Akibat Sekolah Asal Salahi Prosedur

13 Juni 2019, 15: 32: 40 WIB | editor : Perdana

Uji Coba PPDB SMA, Akibat Sekolah Asal Salahi Prosedur

SOLO - Uji coba penerimaan peserta didik baru (PPDB) SMA di Kota Bengawan diwarnai sejumlah kendala yang membingungkan calon pendaftar. Hal ini disebabkan beberapa SMP menuliskan surat keterangan hasil ujian nasional (SKHUN) tidak sesuai dengan prosedur operasional standar ujian nasional (POSUN). Otomatis berkas yang diinput tertolak sistem.

Ketua Panitia Simulasi PPDB SMAN 3 Surakarta Sri Widodo mengakui adanya kebingungan siswa tersebut. Sejumlah SMP dalam aplikasi diminta untuk mengisi 11 digit terakhir. Namun ada SMP hanya menulis lengkap baru 10 digit. Ada juga yang menulis 13 digit, tapi beberapa nomor ada yang dihilangkan. Sehingga tidak bisa masuk dalam aplikasi.

“Solusinya kami minta untuk konfirmasi ke SMP asal. Biar dibetulkan sesuai POS yang seharusnya dalam penulisan nomor. Karena ini tidak bisa masuk aplikasi. Tidak terdeteksi, jadi anak-anak bingung,” bebernya kepada Jawa Pos Radar Solo ditemui di sekolah setempat, kemarin.

Widodo menyebut penomoran yang berbeda-beda tersebut tergantung masing-masing sekolah. Tahun lalu, nomor yang dibutuhkan hanya sembilan digit. Sehingga bagi sekolah yang menuliskan 10 digit, sudah ter-cover.

Kendala lainnya, beberapa calon pendaftar yang menyertakan Kartu Indonesia Pintar (KIP) tidak bisa memilih sekolah. Dalam aplikasi, calon peserta harus menginput nomor KIP.

“Saat input nomor KIP, sudah oke. Tapi begitu keluar token, kemudian menggunakan token itu untuk memilih sekolah, malah tidak bisa. Tertolak. Belum boleh memilih sekolah. Jadi kami akan adukan ini sebagai kendala. Biar sistem diperbaiki, karena ini sifatnya simulasi,” ujarnya. 

Selain itu, lanjut Widodo, para calon pendaftar masih sering melewatkan dalam pengisian nomor induk kependudukan (NIK) dan nomor kartu keluarga (KK). Sehingga petugas bagian pencetakan token harus membuka lagi berkas-berkas itu untuk melengkapi data yang kosong. Panitia masih memaklumi hal itu. Sebab, ini adalah sistem baru bagi masyarakat. Meski baru uji coba aplikasi, antusias calon pendaftar membeludak.

“Mungkin mereka penasaran juga. Kami berkali-kali mengingatkan kalau hari ini (kemarin) adalah uji coba. Biar tidak ada ketegangan. Ada informasi beredar di masyarakat kalau PPDB tahun ini cepat-cepatan. Padahal bukan seperti itu,” imbuhnya.

Pantauan Jawa Pos Radar Solo, simulasi PPDB di SMAN 3 diburu banyak calon pendaftar. Targetnya, hanya membuka sekitar 120 siswa dari SMP di sekitar sekolah. Namun, animo masyarakat cukup tinggi dibuktikan dengan hadirnya 400 siswa yang mendaftar simulasi di sekolah tersebut. Jumlah ini diprediksi akan bertambah sampai hari ini.

Di SMAN 2, simulasi PPDB berjalan lancar. Kebingungan yang dialami calon pendaftar seputar hak privilege atau hak istimewa bagi pemegang prestasi sebesar lima persen. “Kalau anak prestasi punya hak zonasi dan jalur prestasi. Kalau zonasi dia mendaftar di sekolah zonanya. Kalau jalur prestasi dia mendaftar di luar zonanya. Ketika sama-sama diterima, maka yang diprioritaskan yang jalur prestasinya,” jelas Ketua PPDB SMAN 2 Dwiarti Maryunani.

Dia mencontohkan jika siswa berprestasi mendaftar di sekolah zonanya SMAN 2 dan jalur prestasi di SMAN 4, maka jika keduanya diterima, maka yang diprioritaskan di SMAN 4.

Di sisi lain tidak semua siswa mengalami kendala. Salah seorang peserta simulasi PPDB SMAN 2 Surakarta, Tafasa mencoba memilih sekolah pilihan sesuai zonasinya. Dia bertempat tinggal di Jaten, Karanganyar. Pilihan sekolahnya adalah SMAN 1, SMAN 2, dan SMAN 8.

“Tadi mencoba daftar, gampang kok. Tidak ribet. Koneksinya juga lancar. Tinggal memilih sekolah mana, nanti sudah keluar semua di layar komputer. Cepat juga prosesnya," kata alumni SMPN 1 Jaten ini. (aya/bun)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia