Jumat, 15 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Ekonomi & Bisnis

Transaksi Pasar Modal Lesu, Terimbas Perang Dagang Amerika-Tiongkok

13 Juni 2019, 16: 13: 20 WIB | editor : Perdana

Transaksi Pasar Modal Lesu, Terimbas Perang Dagang Amerika-Tiongkok

SOLO – Pascalibur Lebaran ini, transaksi pasar modal mengalami kenaikan. Setelah sebelumnya sempat lesu darah pada momen bulan puasa Ramadan. Berlanjut hingga masa libur Lebaran yang terjadi selama 9 hari. Berimbas pada penurunan gairah transaksi pasar modal.

Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) Surakarta M. Wira Adibrata mengatakan, pada bulan Ramadan, transaksi pasar modal memang lesu. Jumlah transaksi hanya di angka Rp 2 triliun pada Mei. Padahal rata-rata bulanan transaksi sebelumnya mencapai Rp 3,5 triliun. Nah, usai Lebaran ini, indeks pasar modal memperlihatkan grafik meningkat.

”Banyak faktor yang mempengaruhi hal tersebu. Terutama kondisi pasar yang mengalami sentimen negatif pada Mei kemarin. Kemudian ada perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok yang memberikan andil di Indonesia juga. Sehingga geliatnya tidak signifikan. Ditambah pada Ramadan tersebut, neraca perdagangan ikut turun, bahkan minus karena ekonomi global,” jelas Wira kepada Jawa Pos Radar Solo di ruang kerjanya, kemarin (12/6).

Ditambahkan Wira, setelah Lebaran, kondisi pasar modal kembali membaik. Banyak perusahaan menjual saham di angka yang baik. Salah satunya Telkom. Pada masa Ramadan, menjual saham seharga Rp 3.500 per lembar. Per Senin (10/6), dibuka di angka Rp 4 ribu.

Selain itu, banyak perusahaan yang membagikan deviden memuaskan. Sehingga mendorong para investor segera membeli saham untuk mendapatkannya. Kemudian untuk transaksi di Kota Solo, selama 2018 mencapai Rp 30 triliun. Hingga April 2019 ini sudah mencapai Rp 10,3 triliun.

Sementara itu, Manager Representative Officer PT RHB Sekuritas Solo Lius Andy Hartono juga menyatakan hal serupa. Dia menyebut kondisi ini selalu terjadi pada masa sebelum dan sesudah Lebaran. Tak hanya Indonesia, demikian halnya di Malaysia. Sedangkan Amerika Serikat yang menjadi acuan, mengalami kenaikan di angka 3,2 persen.

”Bursa Efek Indonesia libur selama sembilan hari. Inilah yang membuat trader cenderung menahan uangnya. Begitu pula dengan investor. Sebab mereka khawatir tidak bisa menjual jika berbelanja terlalu banyak,” tandasnya. (gis/fer)

(rs/gis/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia