Kamis, 14 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Karanganyar

Proses PPDB, Wali Murid Nekat Memanipulasi KK

13 Juni 2019, 20: 20: 48 WIB | editor : Perdana

ONLINE: Guru dan karyawan di salah satu SMK di Karanganyar melakukan simulasi pendaftaran PPDB.

ONLINE: Guru dan karyawan di salah satu SMK di Karanganyar melakukan simulasi pendaftaran PPDB. (RUDI HARTONO/RADAR SOLO)

Share this      

KARANGANYAR – Persaingan untuk mendapatkan kursi di sekolah favorit makin tak sehat. Adanya sistem zonasi dalam proses penerimaan peserta didik baru (PPDB) membuat sejumlah orang tua/wali murid di Karanganyar nekat melakukan manipulasi kartu keluarga (KK) atau akta kelahiran anak.

Salah satu orang tua murid Wawan mengatakan, dengan adanya sistem zonasi ia sangat khawatir anaknya yang punya potensi kecerdasan di atas rata-rata akan ditolak di sekolah favorit. Sebab, kuota untuk jalur prestasi hanya 5 persen. Warga asal Ngargoyoso ini mengakui, anaknya sudah melirik salah satu sekolah favorit di luar zona tempat tinggalnya. 

“Ini akan uyak-uyakan (kejar-kejaran, Red) untuk mendapatkan kuota 5 persen dari jalur prestasi itu. Karena kuota jalur reguler yang diterapkan dengan sistem zonasi 90 persen. Jadi mau tidak mau, peserta didik yang pintar belum tentu bisa masuk ke sekolah favorit,” papar Wawan.

Lebih lanjut Wawan menceritakan, sejumlah tetangganya bahkan nekat menitipkan anak mereka ke sejumlah keluarga yang rumahnya dekat dengan sekolah favorit. Alias melakukan manipulasi KK dengan memasukkan anak mereka ke KK keluarga lain demi memenuhi ketentuan sistem zonasi.

“Ada yang dititipkan ke saudara, kemudian membuat surat keterangan perpindahan. Atau dititipkan ke KK saudara,” ucap dia.

Hal serupa diungkapkan Utami, warga Mojogedang. Ia merasa kepandaian anaknya selama belajar di SMP dan selalu mendapatkan ranking terbaik hanya akan sia-sia. 

“Penginnya ke sekolah favorit. Kalau ke sekolah yang ada di wilayah, anaknya tidak mau. Kalau mau pindah ke Solo, nanti biaya untuk ngekos-nya juga mahal,” papar Utami.

Sementara itu, Kepala Cabang Dinas Pendidikan VI Suyanta mengungkapkan, peluang untuk memanipulasi data KK ataupun surat pindah tugas orang tua dalam pelaksanaan PPDB online sangatlah kecil. Pasalnya, pihak sekolah juga akan melakukan verifikasi surat tersebut.

“Kalaupun memakai surat tugas pindah orang tua atau ikut KK dengan saudara yang ada di dekat sekolah, baik peserta didik maupun orang tua itu harus terhitung enam bulan sebelumnya. Jadi tidak bisa kalau mau melakukan manipulasi data KK atau surat pindah itu,” terang Suyanta.

Lebih lanjut ia menerangkan, sistem pendaftaran PPDB online dengan sistem zonasi hanya untuk SMA. Sementara untuk SMK tidak menggunakan sistem tersebut.

Untuk memudahkan peserta didik melakukan pendaftaran secara online, selama dua hari Pemprov Jateng melalui dinas pendidikan dan kebudayaan melakukan simulasi PPDB yang digelar di masing-masing sekolah.  Hal tersebut dilakukan agar peserta didik nantinya mampu menjalankan pendaftaran.

“Simulasi itu kita lakukan karena nanti sebelum peserta didik mendaftar, mereka mendapat akun terlebih dahulu. Cara mendapatkan akun itu, peserta didik datang ke sekolah dan menunjukkan berkas persyaratan. Kemudian baru melakukan pendaftaran,” pungkasnya. (rud/ria)

(rs/rud/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia