Minggu, 21 Jul 2019
radarsolo
icon featured
Jateng

Lebih Nyaman, Jamaah Haji Jateng Akan Tinggal di Satu Pemondokan

14 Juni 2019, 21: 39: 44 WIB | editor : Perdana

Lebih Nyaman, Jamaah Haji Jateng Akan Tinggal di Satu Pemondokan

SOLO - Jamaah haji dari Jawa Tengah 2019/1440 H bakal menikmati berbagai kenyamanan selama menjalankan ibadah di Tanah Suci. Selain bakal kumpul dalam satu maktab atau pemondokan di Jarwal, para jamaah juga bisa menikmati kuliner khas daerah sejak pemberangkatan sampai pemulangan. 

Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama (Kemenag) Nizar mengatakan, hal tersebut terjadi setelah pihaknya memutuskan membuat sistem zonasi per wilayah untuk penentuan maktab. Pada musim haji sebelumnya, maktab diundi berdasar kloter penerbangan. 

“Selama ini kan yang banyak jadi persoalan jamaah tersasar. Banyak sekali itu, dari Masjidilharam mau pulang ke maktab tersasar, karena ketinggalan bus. Belum lagi kalau lupa dari maktab mana. Akhirnya diputuskan maktab dibagi zonasi per wilayah. Jawa Tengah maktabnya di Jarwal," katanya dalam pelantikan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji Embarkasi Solo di Sunan Hotel, Solo, Jumat (14/6). 

Nizar juga mengatakan, untuk letak Maktab Jarwal memang dekat dengan Masjidilharam. Jaraknya sekitar 900 meter hingga 2 kilometer. Artinya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Tentunya itu jadi kesempatan emas bagi jamaah haji dari Jateng agar bisa menjalankan ibadah dengan khusyuk dan penuh kesabaran.

“Di Jarwal ini juga ada hotel yang berkapasitas 16 ribu. Meski di wilayah Jarwal untuk hotel atau maktabnya sedikit tidak baru, dan agak sedikit minimalis,” katanya. 

Selain zonasi maktab, inovasi yang dilakukan panitia penyelenggara ibadah haji (PPIH) adalah penyediaan kuliner bagu para jamaah selama ibadah. Seluruh sajian berdasarkan cita rasa nusantara. Gudeg, pecel, rendang, sate dan lainnya. 

“Ini untuk mengatasi jamaah kekurangan gizi. Sebab, kalau kita sediakan sajian khas timur tengah, lidah kita ini kurang cocok dan akhirnya para jamaah enggan makan. Tidak heran beberapa tahun lalu terjadi banyak jamaah kekurangan gizi, ya karena makanannya tidak cocok dengan lidah,” katanya. 

Tahun ini, dari total 231 ribu kuota jamaah haji Indonesia, sekitar 30 ribu berasal dari Jateng dan terkumpul di Embarkasi Solo. Total jamaah yang diterbagi dalam 96 kloter itu akan menjalani dua fase. Yakni, fase pemberangkatan dan pemulangan. 

Fase pemberangkatan akan ada dua gelombang. Gelombang pertama 7-19 Juli. Gelombang kedua 20 Juli - 5 Agustus. Sementara untuk fase pemulangan, gelombang pertama melalui Jeddah, 7-19 Agustus. Kedua, melalui Madinah pada 30 Agustus-15 September. 

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo merasa plong mendengar berbagai inovasi yang dilakukan Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag. Persiapan pemondokan dan kuliner bukanlah hal sepele karena menentukan kualitas hidup jamaah selama berada di Tanah Suci. 

“Mendengar inovasi tadi saya ndlongop tadi. Negara kita ini sangat islami, apa yang tidak diurus? Ya wes ngene wae. Bertamu di Tanah Suci biar benar-benar bisa khusyuk. Minimal bisa membuat saudara kita ayem, bisa ngumpul. Ada kemantapan, suasana kearifan lokal yang membuat mereka nyaman sehingga ibadahnya tidak akan terganggu. Mudahkanlah saudara kita beribadah,” katanya. 

Ganjar lantas mengisahkan pengalaman pertamanya menjalankan ibadah haji. Dari sebelum pemberangkatan, diantar sanak saudara, hingga bagaimana rasanya menginjak Tanah Suci dan melihat wujud kabah untuk kali pertama dalam seumur hidup. 

“Getaran batinnya itu berbeda. Melihat kabah kita langsung gemetar dan menangis. Semoga kita diberi kekuatan untuk memudahkan dan memperlancar saudara kita yang beribadah,” katanya.

(rs/bay/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia