Rabu, 20 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Pendidikan

PPDB, Siswa Wajib Sertakan Surat Mutasi Orang Tua

15 Juni 2019, 10: 10: 59 WIB | editor : Perdana

PPDB, Siswa Wajib Sertakan Surat Mutasi Orang Tua

SOLO - Beberapa catatan arus dibenahi sebelum pendaftaran penerimaan peserta didik baru (PPDB) resmi dibuka. Beberapa di antaranya jalur perpindahan tugas orang tua dan kartu keluarga bagi siswa di kelurahan hasil pemekaran. 

Sekretaris Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Kota Surakarta Agung Wijayanto menyebut banyak calon peserta hanya membawa surat keputusan (SK) penempatan agar bisa daftar lewat jalur pindah tugas orang tua. Padahal, surat yang dibutuhkan adalah keterangan mutasi dari instansi yang menjelaskan lokasi perpindahan tugas orang tua.

“Kalau hanya bawa SK (penempatan), kan belum tentu orang tuanya ikut mutasi atau tidak. Maka yang diperlukan dalam jalur ini adalah surat keterangan mutasi dari instansi lama ke tempat tugas baru, bukan SK,” tegasnya kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (14/6).

Dalam simulasi PPDB kemarin, masih banyak calon peserta yang belum memahami hal tersebut. Sehingga petugas harus memberikan penjelasan terkait informasi surat keterangan mutasi yang dibutuhkan.

“Karena kemarin masih simulasi, jadi tidak apa-apa. Tapi saat pelaksanaan PPDB mulai Senin (24/6), jika masih bawa SK maka tidak akan diterima dalam jalur perpindahan orang tua. Karena harus ada surat keterangan mutasi yang jelas,” sambungnya.

Kendala lain, terkait kartu keluarga (KK). Di Kota Bengawan, ada beberapa kelurahan yang sudah pecah menjadi beberapa kelurahan. Contohnya, Kelurahan Kadipiro. Pecah menjadi tiga kelurahan, yakni Kadipiro, Banjarsari, dan Joglo. Agung mengatakan, jika warga yang tinggal di Kelurahan Banjarsari dan Joglo belum mengganti KK-nya, maka secara administrasi, zonasi sekolahnya masih berdasarkan Kelurahan Kadipiro.

“Kami mengimbau secepatnya mengurus penggantian KK. Agar tidak ada masyarakat yang merasa dirugikan dengan kondisi ini. Kalau KK-nya masih tinggal di Kelurahan Kadipiro, zonanya ya ikut berdasarkan KK,” jelasnya.

Seandainya ada warga yang baru saja mengganti KK, tidak perlu khawatir. Sebab, mereka bisa menunjukkan fotokopi KK sebelumnya yang sudah dilegalisasi.

Agung menambahkan, penerapan sistem zonasi kali ini acuannya hanya berdasarkan jarak tempat tinggal dengan sekolah. Nilai sama sekali tidak dipakai. Sehingga dimungkinkan ada beberapa masyarakat yang merasa keberatan. Lantaran merasa nilainya tidak dihargai.

“Nanti mungkin ada banyak siswa berprestasi yang tidak bisa pakai jalur prestasi karena sekolah yang dipilih harus di luar zonanya. Contohnya, siswa yang tinggal di wilayah Gilingan. Wilayah ini masuk dalam delapan sekolah negeri di Solo. Jika dia pakai jalur prestasi, maka harus memilih sekolah di luar Solo,” imbuhnya.

Atau kekhawatiran lain, ada masyarakat yang tinggal di daerah perbatasan, namun ingin bersekolah di Kota Solo yang jaraknya relatif jauh. Agung mencontohkan, ada siswa yang tinggal di Kelurahan Karangasem, Laweyan ingin sekolah di SMAN 4. Jarak antara tempat tinggal dengan sekolah tersebut sejauh empat kilometer.

“Masuk zonanya memang, tapi mengkhawatirkan. Padahal itu sekolah negeri di Solo terdekat dengan tempat tinggalnya. Tapi di dekat rumahnya ada sekolah lain seperti SMAN Colomadu dan sekolah lain dalam wilayah Jawa Tengah, tapi di luar Solo,” terangnya.

Simulasi PPDB SMK juga ditemukan beberapa hal yang menjadi kendala. Pertama, nomor ujian siswa dari SMP yang kurang lengkap. Sehingga tidak bisa mengakses aplikasi. Solusinya, calon peserta mencari namanya secara manual. “Setelah itu baru muncul nomor ujian 10 digit yang bisa masuk dalam sistem,” kata Ketua MKKS SMK Kota Surakarta, Suratno.

Kedua, banyak calon peserta yang lupa dengan password emailnya. Padahal password email ini dapat membantu calon peserta jika dia lupa dengan password token yang dimiliki.

“Karena kalau password token lupa bisa direset pakai password email. Sehingga tetap bisa masuk aplikasi,” ujarnya. Selebihnya, Suratno mengaku simulasi PPDB SMK tidak banyak keluhan. (aya/bun)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia