Rabu, 24 Jul 2019
radarsolo
icon featured
Klaten

Penjaga Perlintasan "Mbah Ruwet" Tertabrak KA

15 Juni 2019, 19: 29: 29 WIB | editor : Perdana

perlintasan kereta api tanpa palang di Desa Pokak, Kecamatan Ceper

perlintasan kereta api tanpa palang di Desa Pokak, Kecamatan Ceper

Share this      

KLATEN - Nasib naas dialami Sunarto, 60, salah satu penjaga perlintasan kereta api tanpa palang di Desa Pokak, Kecamatan Ceper. Ia menjadi korban karena tertabrak kereta api (KA) saat melaksanakan tugasnya pada Sabtu (15/6) siang sekitar pukul 13.30 WIB.

Berdasarkan informasi yang diterima Jawa Pos Radar Solo, kejadian bermula saat Sunarto sedang bertugas perlintasan kereta api tanpa palang yang dikenal dengan sebutan Mbah Ruwet. Warga Dusun Kasaran, Desa Pasungan, Kecamatan Ceper itu bertugas dengan rekannya Juwoto. Sunarto mendapatkan penugasan di sisi barat sedangkan Juwoto dari sisi timur.

"Saat ada kereta api yang hendak melintas dari arah Solo (utara) ke Jogja, kedua penjaga ini menutup jalan di sisi barat maupun timur. Tujuannya agar tidak ada pengguna jalan yang menyeberang," ucap salah satu warga di lokasi kejadian, Slamet, 59, Sabtu (15/6) sore.

Lebih lanjut, Slamet menjelaskan jika mekanisme penjagaan perlintasan kereta api tanpa palang seperti itu memang biasanya dilakukan. Tetapi saat itu dirinya tidak menduga jika Sunarto yang berdiri sekitar 2 meter dari rel justru tiba-tiba mendekati perlintasan saat kereta api hendak melintas.

Saat itu jarak kereta api sebenarnya sudah begitu dekat sehingga Sunarto yang justru mendekat itu akhirnya tertabrak. Korban sempat terseret sejauh 20 meter dari titik awal. Warga menduga korban melakukan hal itu karena kondisinya yang gangguan jiwa.

"Memang korban sendiri memiliki riwayat (gangguan jiwa). Kalau obatnya sudah habis biasanya sering linglung dan melamun. Apalagi sejak 10 hari terkahir ini sudah menunjukan tanda-tanda kurang sehat dan tampak kebingungan," ucapnya.

Dari peristiwa itu Sunarto dinyatakan tewas di lokasi kejadian dengan kondisi luka pada bagian kaki. Warga lantas melaporkan kepada kepolisian setempat. Pihak polisi pun membawa jenazah ke rumah sakit terdekat.

"Ini dibawa polisi ke rumah sakit. Memang kondisi cukuo parah. Untuk sementara penjagaan diperketat dulu karena banyak warga yang menonton. Termasuk menyiapkan petugas pengganti untuk penjagaan perlintasan kereta api," jelasnya.

Sementara itu, warga lainnya menambahkan, Minto, 45, menjelaskan jika jumlah penjagaan perlintasan kereta api yang dikenal dengan sebutan Mbah Ruwet itu terdapat enam orang. Dalam menjalankan tugasnya terbagi dalam sejumlah shift.

"Dalam sehari dibagi menjadi tiga shift. Setiap shiftnya terdapat dua orang. Penjagaan seperti ini sudah ada sejak enam tahun lalu setelah kecelakaan dengan bus dulu," pungkasnya.(ren)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia