Minggu, 21 Jul 2019
radarsolo
icon featured
Features

Botol dan Kertas Bekas Jadi Wayang Golek

16 Juni 2019, 08: 05: 59 WIB | editor : Perdana

BIAR NGGAK PUNAH: Murid SDN 05 Wirun, Sukoharjo mementaskan wayang golek Ramayana berbahan limbah kertas di ruang kelas kemarin (15/6). Kegiatan ini bertujuan melatih siswa kreatif mengolah bahan tak terpakai menjadi sebuah karya yang menarik.

BIAR NGGAK PUNAH: Murid SDN 05 Wirun, Sukoharjo mementaskan wayang golek Ramayana berbahan limbah kertas di ruang kelas kemarin (15/6). Kegiatan ini bertujuan melatih siswa kreatif mengolah bahan tak terpakai menjadi sebuah karya yang menarik. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

SUKOHARJO – Banyak anak yang sudah terlena dengan beragam game di smartphone. Ini berdampak lunturnya kecintaan terhadap kesenian tradisional. Kondisi tersebut menggugah tekad Rahel Olivia Chandra Estoni Putri mengenalkan wayang golek spesial.

Kenapa disebut spesial? Sebab bahan pembuat wayang golek memanfaatkan barang bekas. Hasil karya Rahel tersebut dipertontonkan kepada murid SDN 05, Wirun, Sukoharjo kemarin (15/6). Dia dibantu tiga rekannya dari program studi Desain Komunikasi Visual (DKV) FSRD Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta membawakan lakon Ramayana.

Bukan hanya ndalang, Rahel dan rekannya menggelar workshop sederhana membuat wayang golek dari bahan bekas kepada puluhan murid SDN setempat. Ada empat karakter wayang golek yang dibuat. Yakni Rama, Shinta, Anoman dan Rahwana. Para murid sangat antusias mengikuti arahan Rahel.

Rahel ingin mengajarkan kepada murid SD bahwa barang yang dianggap limbah bisa menjadi sesuatu bernilai seni tinggi. “Judul program ini saya beri nama Walimba atau wayang kertas limbah,” tuturnya.

Bagian kepala wayang golek dibuat dari kertas bekas yang dikepal membentuk bola. Selanjutya dilapisi masking tape agar lebih mudah diwarnai. ”Kalau (dilapisi, Red) pakai solasi biasa, catnya tidak menempel,” katanya. 

Rampung bagian kepala, untuk badan wayang golek dibuat dari botol bekas air mineral ukuran 1,5 liter kemudian diisi kertas. Sedangkan tangan dan gagang wayang memanfaatkan bambu.

 Setelah itu, bagian per bagian wayang golek disatukan menggunakan lem. Khusus tangan direkatkan ke badan dengan cara dijahit. Proses terakhir, wayang golek dihias aksesori sesuai karakternya masing-masing. “Bajunya kita pakai kain perca,” ucap dia.

Pembuatan satu karakter wayang golek dari bahan bekas butuh waktu sekitar dua hari. Yang cukup lama adalah mencari bentuk aksesori agar sesuai karakter wayang. Rahel harus belajar dari dosen program studi pewayangan guna memastikan detail wayang golek. 

“Meskipun barang bekas, harus sesuai dengan aslinya. Cari referensi itu yang lama, karena dari buku dan internet masih kurang,” paparnya.

Kenapa memilih membuat wayang Golek? Rahel mengatakan, bentuknya yang tiga dimensi lebih disukai anak-anak, sehingga diharapkan mereka bersemangat mempelajarinya.

Pentas di SDN 05 Wirun juga bukan tanpa alasan. Di daerah tersebut ada warganya bernama Mbah Brambang sebagai perajin yang wayang dari barang bekas. “Dari hasil ngobrol dengan Mbah Brambang, ternyata ada kesedihan di benak beliau. Anak-anak kampung sini tidak ada yang mewarisi keahlianya,” ujar Rahel.

Selain itu, di SD setempat telah memiliki satu set gamelan. Sehingga ditargetkan bisa berkolaborasi dengan pementasan wayang golek. “Tadi saya tanya sama kepala sekolah dan diberi informasi setiap habis Lebaran selalu ada pagelaran seni di Wirun. Semoga wayang golek dari barang bekas ini bisa ditampilkan atas nama sekolah,” ungkap dia. (atn/wa)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia