Kamis, 14 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Wonogiri

Upaya Hariyanto Angkat Kualitas Kopi Wonogiri

16 Juni 2019, 11: 35: 59 WIB | editor : Perdana

AKTIF: Hariyanto (kanan) bersama pegiat kopi asli Wonogiri.

AKTIF: Hariyanto (kanan) bersama pegiat kopi asli Wonogiri. (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)

Share this      

Wonogiri memiliki potensi kopi yang jika dikelola dengan baik bakal menghasilkan citarasa mantap. Sayangnya, selama ini, petani masih salah dalam mengelola kopi. Baik saat panen maupun pascapanen.

IWAN KAWUL, Wonogiri

KONDISI tersebut berusaha diubah Hariyanto, 34. Sejak pertengahan 2017, dia mulai menggeluti usaha kopi, bukan sebagai petani, tapi sebagai prosesor. Warga Desa Giriwarno, Kecamatan Girimarto ini membeli kopi dari petani, kemudian memprosesnya sendiri menjadi biji-biji kopi pilihan.

"Saya awalnya beli cerry (buah kopi yang masih merah) dari petani. Dua karung (beratnya, Red) sekitar 70 kilogram. Lalu memproses sendiri baru dijual," kata Anto, panggilan akrabnya.

Dia memproses kopi secara alami. Mulai dari memilih kopi berkualitas dengan cara direndam, kemudian menjemurnya di terik matahari selama tiga pekan hingga satu bulan. Proses selanjutnya, biji kopi ditumbuk menjadi green ben hingga ke proses roasting (sangrai).

"Untuk roasting saya ke Solo atau ke Klaten. Yang lainnya proses sendiri. Coba ditawarkan (ke pasar, Red), ternyata enak kopinya. Kemudian mulai banyak yang memesan," ungkap dia.

Selama ini, imbuh Anto, petani salah kaprah memperlakukan kopi. Karena itu, mereka perlu banyak diedukasi agar mengerti cara penanganan kopi sejak masa tanam hingga pascapanen dengan baik dan benar.

“Yang dilakukan petani saat ini asal-asalan sehingga kualitas kopi buruk. Panen harusnya dipetik, dipilih yang merah. Oleh petani, panen hanya diplurut sehingga tercampur dengan yang masih hijau dan merah,” jelas dia.

Kemudian saat pengeringan tidak langsung di atas tanah, harus di beri anjang. Bukan pakai tikar atau hanya dikeringkan di jalan. Sebab membuat taste kopi tidak muncul. “Ada bau tanah," tandasnya.

Yang lebih parah, pascapanen, kopi terlebih dahulu disimpan supaya membusuk baru dijemur lalu dikuliti. Padahal, cerry yang dibusukkan berpotensi merusak citarasa kopi.

"Kalau diperlakukan sesuai dengan prosedur, citarasa kopi Wonogiri tidak kalah bersaing dengan kopi dari daerah lain," ucapnya.

Potensi kopi Wonogiri juga menjadi perhatian pemkab setempat. Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Wonogiri Safuan melalui Kasi Perkebunan Parno menyebut, citarasa kopi dipengaruhi beberapa faktor. Utamanya ketinggian lokasi tanam, petik merah, dan penanganan pascapanen. Pihaknya sudah melakukan pendampingan. Hanya saja petani masih sulit diajak membudidaya kopi dengan baik.

"Kalau panen masih campur dengan yang hijau. Bukan yang merah-merah. Sehingga memengaruhi citarasa," tegasnya.

Sejak lima tahun terakhir, pemkab mendorong petani mengembangkan tanaman kopi. Sebelumnya, mereka membudidayakan kopi tanpa bimbingan atau pelatihan. Di antaranya Sular, 61, petani kopi dari Desa Conto, Kecamatan Bulukerto.

Sular mengakui pada awalnya petani membiarkan pohon kopi tumbuh tinggi baru kemudian panen dan menjual biji kopi ke pasar. "Saya menjadi petani kopi sejak 1990. Tapi baru baru mulai menerapkan teknik budidaya dan pengolahan tiga tahun terakhir," tuturnya.

Kini, sedikitnya 400 pohon kopi jenis arabika berjejal di kebunnya. Sular mendapatkan bibit kopi tersebut dari temannya asal Malang. Tadinya, tanaman kopi dimanfaatkan sebagai tanaman sela dengan sistem tumpang sari bersama aneka sayuran.

Setelah mendapat pendampingan merawat tanaman, memetik buah, hingga teknik pengolahan biji dari komunitas kopi Wonogiri, Sular baru paham ada potensi ekonomi yang besar dari kopi. Dia pun bertekad menjadikan kopi sebagai tanaman utama bersama cengkih di perkebunannya. (*/wa)

(rs/kwl/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia