Sabtu, 07 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Features
Jejak Fungsi Sungai dari Masa ke Masa di Solo

Fungsi Berubah, Restorasi Lebih Tepat

17 Juni 2019, 15: 04: 30 WIB | editor : Perdana

Fungsi Berubah, Restorasi Lebih Tepat

PADA masa pemerintahan kolonial Belanda mulai dilakukan penataan sungai. Upaya-upaya sama juga terus dilakukan hingga saat ini melalui kegiatan normalisasi sungai. Proyek ini dikerjakan oleh pemerintah pusat hingga daerah. 

Seluruh sungai di Kota Solo saat ini jauh dari kata normal jika hal itu dikaitkan dengan istilah natural yang dimiliki sungai tersebut. Karena itu, pendekatan paling baik adalah dengan menimbang efisiensi dan efektivitas sungai itu sendiri. 

“Ada beberapa sungai yang tidak efisien untuk pembangunan infrastruktur karena bentuknya serabut. Jika seperti itu, pemerintah bakal mengeluarkan banyak biaya dengan membangun banyak sekali  jembatan. Hal paling umum ditempuh  adalah upaya pelurusan sungai,” jelas Pakar Lingkungan UNS Prabang Setyono.

Berbagai upaya seperti pelurusan sungai dan lainnya sering disebut dengan istilah de naturalisasi sungai. Dengan pendekatan ini, pengeluaran untuk pembangunan infrastruktur dapat ditekan dengan baik. Bahkan luasan untuk penataan kota pun jadi lebih efektif. Di sisi lain, jika berbagai tahapan tidak dilakukan dengan perhitungan matang, upaya de naturalisasi sungai justru berbahaya. 

“Secara natural sungai merupakan wadah penampung air hujan. Seiring ada perubahan bentang alam terjadi penyempitan sungai, misalnya dari banyak alur kemudian diefisiensi dengan sedikit air. Karena sungainya dipersempit, jalurnya dikurangi, makanya banjir. De naturalisasi boleh asal syaratnya tepat,” papar Prabang.

Disinggung soal bentuk de naturalisasi di Kota Solo, Prabang mengatakan, sebenarnya ini sudah dilakukan sejak ratusan tahun lalu. Misalnya pelurusan Sungai Bengawan Solo di wilayah Solo Baru. Selain itu, Sungai Pepe mulai dari belakang Terminal Tirtonadi ke Sungai Bengawan Solo. Termasuk keberadaan Sungai Larangan yang kini sudah berubah menjadi sebuah saluran air. 

“Untuk fungsi sungai sudah tidak ada selain hanya sebagai sarana pengairan atau pembuangan debit air yang ada di perkotaan,” kata dia.

Prabang bisa memastikan bahwa de naturalisasi sungai di Kota Solo tidak hanya sebatas itu saja. Oleh sebab itu, yang paling pas adalah upaya mensinkronkan dengan aset masa lalu untuk pemanfaatan yang lebih baik. 

“De naturalisasi Kota Solo ya banyak. Solo itu kan kota tua, banyak peninggalan Belanda yang sampai hari ini belum bisa termanfaatkan. Kemungkinan karena sistem salurannya memang belum memungkinkan untuk dibangun kembali,” ujarnya.

Prabang memberi contoh lorong di sepanjang Jalan Slamet Riyadi yang menyambung dengan area di bawah Benteng Vastenburg. Kelemahan selama ini tidak ada koordinasi antarkedinasan. Misalnya bidang yang mengelola sungai, tidak berkoordinasi dengan bagian lainnya saat pembangunan jalan, jembatan dan lainnya. Fenomenanya adalah ada masalah baru dicari solusinya.

Lalu apa solusinya? Prabang menilai istilah restorsi sungai jauh lebih pas digunakan dengan cara mengembalikan sungai sesuai fungsinya. Hal ini lebih rasional jika dikembalikan bentuknya seperti dulu. Pendekatnnya, sungai dapat dimanfaatkan untuk sumber air minum jika diolah dengan baik. Sungai dapat dibuat sedemikian rupa untuk upaya perikanan, termasuk sungai untuk memenuhi kebutuhan air bersih atau pengairan untuk permukiman di sekitarnya.

“Perlu upaya serentak dan sistematis untuk pengelolaan sungai ke depan. Mungkin bisa membuat semboyan-semboyan yang ramah di kuping masyarakat. Seperti yang dilakukan pemerintah saat meluncurkan program KB (Keluarga Berencana),” tutur Prabang. (ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia