Minggu, 17 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Features
Jejak Fungsi Sungai Dari Masa Ke Masa Di Solo

Mulai Kembangkan ke Wisata dan Edukasi

17 Juni 2019, 15: 06: 53 WIB | editor : Perdana

Mulai Kembangkan ke Wisata dan Edukasi

SUNGAI-sungai dulu natural saat ini sudah menjadi sebuah saluran air. Bentuknya masih cukup lebar, namun kini menjadi saluran primer. Contohnya saluran air di Jalan Bhayangkara, sisi Jalan Slamet Riyadi dan Kali Larangan yang sekarang saluran yang menuju ke sana sudah ditutup.

Kepala Dinas Pekerjaan umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Surakarta Endah Sitaresmi Suryandari, hingga saat ini masih banyak infrastruktur saluran air peninggalan Belanda yang belum termanfaatkan. Sebab, lokasi saluran memang cukup jauh di dalam tanah. Termasuk belum ditemukannya peta jaringan drainase peninggalan kolonial yang utuh. 

“Dari pada kesulitan mencari drainase lama itu dan tuntutan dipercepatnya penanganan banjir dan genangan, pemkot lebih memilih membuat saluran  drainase baru,” kata Sita. Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Surakarta Endah Sitaresmi Suryandari.

Kendati demikian, upaya penataan saluran air di Kota Bengawan telah menunjukkan dampak positifnya. Paling tidak dalam beberapa tahun terakhir upaya normalisasi sungai yang diterapkan dapat menekan luasan banjir dan peta genangan di Kota Solo. 

“Potensi banjir itu tetap ada. Yang jelas pemkot selalu memperbaiki dan menyesuaikan sistem dengan fenomena genangan yang ada saat ini,” jelas dia.

Penanganan banjir dan genangan di dalam kota tersebut tak lepas dari upaya pemerintah dalam penataan sungai-sungai besar di Kota Bengawan. Karena itu, pada diklat pimpinan 2015, dia merancang sejumlah program normalisasi sungai. “Rencana penataan kawasan sungai secara masif mulai disusun. Mulanya dari titik Tirtonadi,” kata dia.

Program normalisasi sungai di sekitar Tirtonadi mulai dipetakan. Permasalahan seperti sungai yang kurang asri, permukiman padat di bantaran, dan jembatan tidak ramah lingkungan mulai jadi target perbaikan ke depan. 

“Saya melirik Tirtonadi merupakan sebuah ikon yang belum terlihat. Potensinya tinggi karena daerah kebangkitan lalu lintas dengan keberadaan terminal cukup memiliki nama besar. Makanya saya susun proyek perubahan dalam program kerja saya waktu itu,” kata Sita.

Kini tahapan tersebut sudah dikerjakan. Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) membangun parapet, menormalisasi Kali Pepe dengan proses manteling, hingga penataan kawasan bantaran dan normalisasi Kali Anyar, Bendung Tirtondi dan lainnya.

“Koordinasi dengan wali kota untuk bantuan provinsi dan lainnya untuk program normalisasi sungai. Perlu relokasi penduduk agar sungai normal kembali. Kemudian ada perubahan jembatan dari  model lama dengan banyak tiang diubah ke model baru tanpa tiang. Lalu pembuatan sejumlah ruang publik baru. Termasuk Galeri Tirtonadi yang ke depan akan dinamakan Papan Kawruh Tirta,” terang Sita.

Soal Papan Kawruh Tirta, saat ini pemkot tengah menyelesaikan pembangunan ruang publik baru tersebut. Nantinya, lokasi itu bakal jadi pusat pembelajaran soal sumber daya air dan proyek penanganan banjir Kota Solo. Uniknya, pemkot membuka diri untuk siapa saja yang ingin terlibat dalam pembelajaran di sana. Sebab, keterlibatan berbagai dinas jadi program andalan untuk upaya edukasi tersebut meski pengelolaan ruang publik itu masih di bawah DPUPR 

Dengan kemunculan berbagai ikon baru itu, seperti jembatan baru dibangun dengan ikon keris ukuran besar, bendungan dengan wisata air, serta papan kawruh tirta sebagai sarana edukasi lokasi tersebut akan menciptakan daya tarik baru. Alhasil, bukan hanya normalisasi sungai saja yang didapat melainkan juga berpengaruh pada pengembangan tata kota selanjutnya. 

“Berbagai manfaat baru akan muncul seperti Tirtonadi itu kan terletak di simpul pertemuan beberapa sungai maka akan menjadi sangat baik jika ada wisata sungai di sana. Dari segi tata ruang Sungai Gajah Putih dan Kali Anyar itu membagi wilayah Solo utara dan selatan. Sejauh ini pengembangan Solo utara memang lebih lambat dari selatan. Makanya perlu upaya untuk pengembangan wilayah utara. Ini langkah menuju ke sana,” tutur Sita. (ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia