Jumat, 19 Jul 2019
radarsolo
icon featured
Jateng

Sosok Inspiratif Mbah Bandiyem, Diabadikan Jadi Nama Grup Motoran

17 Juni 2019, 19: 45: 21 WIB | editor : Bayu Wicaksono

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dan istri menyapa Mbah Bandiyem ketika masih hidup.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dan istri menyapa Mbah Bandiyem ketika masih hidup.

Share this      

SEMARANG - Sosok Mbah Bandiyem sudah tidak asing lagi di lingkungan kantor gubernur Jawa Tengah. Penjual buah asongan ini sudah puluhan tahun berjualan di lingkungan kantor tersebut. Bahkan dia menjadi saksi pergantian beberapa gubernur. Tak heran bila Gubernur Ganjar Pranowo pun memiliki kesan mendalam bagi sosok satu ini.

Kini sosok itu telah tiada. Pada Sabtu lalu (15/6), Mbah Bandiyem menghembuskan nafas terakhirnya. Jenazahnya dimakamkan di tempat asal lahirnya di Kabupaten Klaten. Ganjar pun merasa sangat kehilangan. Karena itu begitu mendapat kabar Mbah Bandiyem meninggal, Ganjar pun merasa wajib melayat ke rumah Mbah Bandiyem. Meski saat itu dia tengah bertugas di Jogjakarta dan mesti hadir di agenda Jateng Bersalawat di Semarang. 

Bagi Ganjar, sosok Mbak Bandiyem merupakan saksi sejarah rentetan kepemimpinan di Jawa Tengah. Berbekal keranjang pinggul yang dibawa dari rumah di Pleburan, Semarang, dia menjajakan buah secara asongan di halaman kantor orang nomor satu di Jawa Tengah ini.  Semasa hidupnya dia pernah mengatakan telah berjualan sejak 1955. Artinya, dia jadi saksi kepemimpinan sejak gubernur Jateng keempat, MRT Mangoen Negoro. 

Ganjar melayat ke rumah Mbah Bandiyem di Klaten.

Ganjar melayat ke rumah Mbah Bandiyem di Klaten.

Saat Ganjar tiba di Dusun Topeng, Desa Kajen, Kecamatan Ceper, Klaten menjelang Magrib, sanak saudara Mbah Bandiyem tercengang. Mereka kaget orang nomor satu di Jateng itu sudi melayat pada perempuan tua berusia 71 tahun yang hanya penjual buah asongan.

“Kula mboten nyangka Pak Gubernur kersa rawuh ten mriki. Kalawau kula nggih diweruhi fotone Pak Ganjar kaliyan simbok (Saya tidak menyangka Pak Gubernur berkenan hadir di sini. Tadi saya juga diperlihatkan foto Pak Ganjar dengan ibu),” kata Painah, salah satu adik ipar Mbak Bandiyem. 

Ganjar mengisahkan pertemuan pertamanya dengan Mbah Bandiyem terjadi beberapa hari setelah dilantik jadi gubernur periode pertama. Waktu itu Ganjar tengah terburu-buru masuk mobil untuk bertugas namun tiba-tiba dicegat. Bukannya langsung tancap gas, Ganjar justru ngobrol gayeng dengan Mbah Bandiyem. 

Setelah obrolan gayeng itu, sesekali Ganjar menyempatkan ngobrol dengan nenek-nenek dengan sembilan cucu. Bahkan dia jadi tamu spesial saat open house di kantor gubernur Jateng pada Lebaran 2018 silam. 

“Semangat hidupnya Mbah Bandiyem membuat kita yang lebih muda mesti hormat pada beliau. Meski tua menolak berpangku tangan. Perjuangan Mbah Bandiyem itu pasti mengingatkan pada ibu kita yang pantang menyerah. Daya hidup beliau luar biasa,” kata Ganjar.

Sebagai salah satu bentuk penghormatan, Ganjar menjadikan Mbah Bandiyem sebagai nama gerakan kemanusiaan lewat Grup Montoran Bandiyem. Menurutnya, daya hidup Mbah Bandiyem yang pantang bergantung tangan di usia senjanya patut diterapkan siapapun, para pemuda khususnya.

Maka grup motoran tersebut oleh Ganjar dijadikan dorongan bakti sosial pada anak yatim, lansia terlantar dan warga kurang mampu di seantero Jawa Tengah agar daya hidupnya kuat. 

“Gerakan wisata hati keliling Jawa Tengah. Dan sengaja saya pilih motor, agar siapapun bisa ikut tlusupan di seluruh wilayah, sambatan ndandani (gotong royong membenahi) Jateng. Motor ini kan sebagai sarana saja, yang paling penting adalah semua orang bisa sambatan ke mana saja, bisa membantu menyelesaikan apa saja,” katanya.

Sambatan merupakan istilah orang kampung untuk gotong royong. Untuk menerapkan spirit itu, diperlukan cara yang mudah dijangkau masyarakat, motoran salah satunya. Merealisasikan hal itu, Ganjar bakal memanfaatkan motor bekas  yang dia beli pada awal April lalu. 

“Sebenarnya saya telah keliling beberapa daerah di Jateng naik motor bekas ini. Sangat berbeda rasanya dengan ketika naik mobil. Dengan naik motor masyarakat bisa bebas berbaur dengan saya, tidak sungkan karena merasa kita ini sama,” katanya. 

Bermotor memang representasi keterbukaan pergaulan. Ganjar pun mengatakan kejadian-kejadian unik yang dia alami selama keliling Jateng mengendarai sepeda. Dari dijawil warga saat berhenti di lampu merah sampai diteriaki warga agar berhenti karena minta foto. 

“Bahkan ada yang nekat mepet saya untuk minta foto. Untuk yang seperti itu langsung saya ajak menepi dan foto. Keselamatan kan harus nomor satu,” katanya. 

Rupanya, motor memang terlanjur menancap di lubuk Ganjar sebagai moda transportasi, terutama usai menikah dengan Siti Atikoh. Bahkan selama empat tahun awal pernikahan, dia sering wira-wiri Kutoarjo-Purbalingga mengendarai sepeda motor Honda Astrea. 

“Sesekali untuk mengenang momen itu, istri akan saya ajak keliling Jateng naik motor. Semoga dia mau,” katanya.

(rs/bay/bay/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia