Minggu, 21 Jul 2019
radarsolo
icon featured
Wonogiri

Rusak, 20 Embung Gampang Kering

18 Juni 2019, 13: 45: 59 WIB | editor : Perdana

MENYUSUT: Volume sumber air Teleng, Kecamatan Pracimantoro yang mulai berkurang. 

MENYUSUT: Volume sumber air Teleng, Kecamatan Pracimantoro yang mulai berkurang.  (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)

Share this      

WONOGIRI – Puncak musim kemarau terjadi Agustus-September mendatang. Namun, hingga pertengahan bulan ini, puluhan embung di Wonogiri selatan sudah mengering.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri Bambang Haryanto mengatakan, pekan ini, pihaknya akan mengadakan rapat koordinasi dengan sejumlah instansi terkait untuk mengambil langkah strategis.

"Kekeringan ini dampaknya bisa sampai dengan ekonomi, sosial, keamanan, dan sebagainya. Jika mengalami kekeringan, butuh air, tidak punya uang bisa saja kan kemudian melakukan pencurian? Nah, dampak dari kemarau ini sampai ke mana-mana," ungkapnya, Senin (17/6).

Pantauan BPBD, hingga pertengahan Juni, lebih dari 20 embung di Wonogiri selatan mulai mengering. Kecuali, embung yang sudah direhabilitasi. "Ini karena embungnya sudah rusak, sudah tidak bisa tahan lama menampung air," jelas dia.

Salah seorang warga Pracimantoro, Sutiyem, 65, merasakan dampak menyusutnya sumber air Teleng. "Biasanya awal musim kemarau seperti ini masih bisa mengalir untuk irigasi. Tapi sekarang hanya mengalir kecil untuk mandi dan cuci pakaian di tempat yang sudah disediakan," ucapnya.

Warga yang tidak jauh dari sumber air, lanjutnya, memasang pompa air untuk mengalirkan ke rumah-rumah sehingga tidak perlu mengambil air ke sumbernya. "Saya (tinggal, Red) agak jauh. Jadi ya kalau mandi, mencuci pakaian harus ke sumber air. Pulangnya bawa air untuk persediaan di rumah," tutur Sutiyem.

Antisipasi dampak kekeringan juga dilakukan BPBD Sukoharjo. “Di daerah selatan seperti Kecamatan Tawangsari dan Weru sudah mulai kering. Akan diadakan pengecekan ke lapangan. Untuk sekarang ini pasokannya masih aman," terang Kepala  BPBD Sukoharjo, Sri Maryanto.

Wilayah rawan kekeringan di Kecamatan Tawangsari yakni di Desa Watulumbung dan Watubonang, sedangkan di Kecamatan Weru di Desa Alasombo, Desa Jatingarang, Desa Ngreco, Desa Tawang, dan Desa Karangmojo.

BPBD Sukoharjo menggandeng masyarakat, komunitas sosial, dan elemen lainnya untuk membantu dropping air. Rencananya ada tiga mobil pemadam kebakaran untuk distribusi air bersih.

"Jika ingin membantu beli tangki air, kami akan mengarahkan daerah mana yang membutuhkan. Itu agar tidak ada penumpukan dan semua bisa terpenuhi," tandasnya.

Menurut Maryanto, sudah ada dukuh yang mengajuan permohonan air. Yaitu Dukuh Plumbon di Desa Alasombo terdiri dari 79 kepala keluarga.

"Untuk pengajuan bantuan air bersih, warga  bisa mengajukan ke pemerintah desa yang nantinya diajukan ke kecamatan. Selanjutnya dari kecamatan baru diteruskan ke BPBD Sukoharjo dan kemudian diadakan pengecekan," papar dia.

Berdasarkan catatan BPBD Sukoharjo pada 2018, sebanyak 1.571 KK di Kecamatan Tawangsari dan Kecamatan Weru terdampak kekeringan. (kwl/rgl/wa)

(rs/kwl/rgl/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia