Jumat, 19 Jul 2019
radarsolo
icon featured
Pendidikan

Kisruh Nomor SKHUN, Cukup Bawa Nomor Unas

19 Juni 2019, 10: 55: 59 WIB | editor : Perdana

Kisruh Nomor SKHUN, Cukup Bawa Nomor Unas

SOLO - Nomor surat keterangan hasil ujian nasional (SKHUN) SMP yang sempat menjadi kendala calon pendaftar dalam verifikasi berkas penerimaan peserta didik baru (PPDB) SMA dan SMK kini ada solusi. Calon pendaftar cukup membawa nomor peserta ujian nasional (unas) saja.

“Modalnya bawa nomor peserta ujian nasional malah beres. Karena data dan nilai anak sudah ada dalam sistem. Hanya saja kami tidak tahu anak ini lulus atau tidak. Karena nilai ujian nasional kan tidak ada kaitannya dengan kelulusan,” terang Sekretaris Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Kota Bengawan Agung Wijayanto. 

Untuk mengetahui status kelulusan calon pendaftar, maka perlu surat keterangan lulus atau SKHUN yang dikeluarkan oleh pihak sekolah. Namun, Agung melihat ada beberapa sekolah yang salah dalam mencantumkan penomoran dalam menerbitkan SKHUN tersebut.

“Sebenarnya data dan nilai anak sudah ada di dalam database. Jadi itu akan terkonfirmasi secara online. Nah, waktu simulasi ada kendala yang tidak masuk karena nomor SKHUN yang dikeluarkan sekolah itu berbeda,” sambungnya.

Agung menyebut penomoran SKHUN sudah ada standarisasinya. Sebab, semua angka dalam penomoran tersebut memiliki arti masing-masing. Sayangnya, sekolah kurang cermat dalam menuliskan penomoran tersebut. Padahal, tiap-tiap nomor memiliki arti membedakan sekolah, kabupaten/kota, bahkan tahun lulusnya. 

Dia mencontohkan, kode 02 menunjukkan jenjang SMP, kode 19 menunjukkan tahun lulus, kode 03 menunjukkan Provinsi Jawa Tengah, kode 33 menunjukkan Kota Solo, baru kode sekolah.

“Nah, bedanya kalau dulu kode sekolahnya tiga digit, sekarang empat digit. Baru berikutnya nomor peserta didik. Kesalahan yang kami pantau dalam simulasi kemarin, kode yang di sekolah. Contoh SMPN 3 mestinya kodenya 003. Tapi tertulis 002. Sehingga saat masuk aplikasi sudah ada nama lain. Kan kode 002 sudah dipakai SMPN 2,” imbuhnya.

Agung mengaku kesalahan itu dinilai fatal dari pihak sekolah. Sebab hal tersebut sebenarnya upaya dari pihak sekolah agar nilai dan status kelulusan siswa dapat diketahui. Namun kadang kala sekolah kurang cermat soal penomoran itu.

“Mestinya nomor peserta, NISN, nomor induk juga dicantumkan. Sehingga semakin lengkap. Kami berharap tidak ada kendala dalam pelaksanaan PPDB besok. Kami kan mengawali verifikasi. Kalau verifikasi sudah beres semua prosesnya lancar,” tegasnya.

Sebelumnya dalam simulasi PPDB SMA dan SMK pekan lalu ditemukan beberapa SMP menuliskan nomor SKHUN tidak sesuai standar dengan POS UN yang seharusnya. Padahal dalam aplikasi diminta untuk mengisi 11 digit terakhir. Ada SMP yang menulis lengkap baru 10 digit. Ada yang sudah 13 digit tapi beberapa nomor ada yang dihilangkan. Sehingga tidak bisa masuk dalam aplikasi.

“Solusinya kami minta untuk konfirmasi ke SMP asal. Biar dibetulkan sesuai POS yang seharusnya dalam penulisan nomor. Sebab, ini tidak bisa masuk aplikasi. Tidak terdeteksi, jadi anak-anak bingung,” kata Ketua PPDB SMAN 3 Surakarta Sri Widodo.

Widodo menyebut penomoran yang berbeda-beda tersebut tergantung masing-masing sekolah. Tahun lalu, nomor yang dibutuhkan hanya sembilan digit. Sehingga bagi sekolah yang menuliskan 10 digit, sudah ter-cover.

Simulasi PPDB SMK juga ditemukan kendala yang sama. Nomor ujian siswa dari SMP yang kurang lengkap. Sehingga tidak bisa mengakses aplikasi. Solusinya, calon peserta mencari namanya secara manual. “Setelah itu baru muncul nomor ujian 10 digit yang bisa masuk dalam sistem,” kata Ketua MKKS SMK Kota Surakarta Suratno. (aya/bun)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia