Senin, 23 Sep 2019
radarsolo
icon featured
Features

Waldjinah-Ki Manteb Jadi Sesepuh Seni

20 Juni 2019, 09: 10: 59 WIB | editor : Perdana

TERUS BERKARYA: Waldjinah di depan deretan penghargaan yang tertata rapi di rumahnya.

TERUS BERKARYA: Waldjinah di depan deretan penghargaan yang tertata rapi di rumahnya. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Dua maestro di bidang seni yakni Waldjinah dan Ki Manteb Sudarsono akan menerima award dari Institut Javanologi Universitas Sebelas Maret (UNS) dan Javanese Diaspora Network (JDN), Jumat (21/6).

Waldjinah akan menerima anugerah sebagai sesepuh bidang seni keroncong, sedangkan Ki Manteb Sudarsono sebagai sesepuh bidang pewayangan. "Keduanya dianggap sebagai sesepuh Diaspora Jawa di tingkat dunia. Baik Waldjinah dan Ki Manteb Sudarsono telah membumikan budaya Jawa di kancah internasional," beber peer group Institut Javanologi UNS Sahid Teguh kepada Jawa Pos Radar Solo dalam jumpa pers di kampus setempat, kemarin.

Sahid menyebut ratusan diaspora Jawa seluruh dunia akan hadir memeriahkan kegiatan ini. Sebanyak 269 keturunan Jawa yang tersebar di berbagai negara seperti Suriname, Malaysia, Belanda, New Caledonia, Singapura, Amerika Serikat, dan Tiongkok akan meramaikan kegiatan yang dipusatkan di pendapa Javanologi, Kamis-Sabtu (20-22/6).

"Yang menarik dari kegiatan ini adalah seluruh rangkaian acaranya menggunakan bahasa Jawa ngoko sebagai bahasa pengantarnya. Karena para peserta diaspora Jawa tersebut mayoritas masih menguasai bahasa Jawa ngoko selain bahasa dari negaranya masing-masing. Termasuk Rektor UNS juga akan membuka acara dengan basa Jawa ngoko," ungkap Kepala Javanologi UNS sekaligus ketua panitia kegiatan Setyobudi.

Bagi para diaspora Jawa, lanjut Setyobudi, Jawa bukanlah sebuah teritorial. Lebih dari itu, Jawa adalah sebuah ziarah budaya yang menjadi energi baru. Jawa juga dianggap sebagai ikatan jiwa.

"Kalau mereka ditanya, Jawanya mana? Mereka tidak peduli. Yang penting mereka bisa bahasa Jawa, masih tumpengan, masih pakai jarit di acara-acara tertentu. Itu Jawa bagi mereka," sambungnya.

Kegiatan tersebut sekaligus ajang melepas rindu. Sebab itu, panitia men-setting seluruh rangkaian acara kental dengan nuansa Jawa. Mulai dari prosesi pembukaan, pentas seni dari peserta, pameran karya seni, serta data kesejarahan diaspora Jawa. Berlanjut hingga malam kesenian bertajuk Madhang Bareng.

"Kegiatan ini sudah kali keempat terselenggara. Namun perdana bekerja sama dan dipusatkan di UNS. Harapannya menjadi terobosan UNS menginternasionalkan kebudayaan Jawa," tegas dia. (aya/wa)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia