Sabtu, 07 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Ekonomi & Bisnis

Ayam Ras Biang Inflasi Juni, TPID Bahas Akar Masalah

20 Juni 2019, 10: 35: 59 WIB | editor : Perdana

HARGANYA MAHAL: Komoditas daging ayam ras yang dijual pedagang Pasar Gede Solo, kemarin (19/6). TPID Surakarta menggelar rakor untuk mengatasi permasalahan di tingkat peternak ayam.

HARGANYA MAHAL: Komoditas daging ayam ras yang dijual pedagang Pasar Gede Solo, kemarin (19/6). TPID Surakarta menggelar rakor untuk mengatasi permasalahan di tingkat peternak ayam. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Surakarta memprediksi Juni ini Kota Solo kembali mengalami inflasi. Pemicu utamanya harga daging ayam ras, telur, cabai, angkutan darat, dan udara. Khusus ayam ras, jadi sorotan utama dalam rapat koordinasi (rakor) TPID di Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Surakarta, kemarin (19/6).

TPID menganggap ayam ras jadi permasalahan pelik. Meski pasokan ayam dari tingkat peternak cukup melimpah, namun faktanya Mei kemarin tetap terjadi inflasi. Salah satu pemicu utamanya ayam ras.

Disinyalir, mulai banyak peternak ayam ras yang gulung tikar. Kesulitaan menutup biaya produksi yang terus membengkak. Karena harga pakan ternak terus naik. Sementara harga jual ayam ras di dari tingkat peternak rendah.

Saat ini harga ayam di tingkat peternak wilayah Jawa Tengah dan sekitarnya Rp 8-10 ribu per kilogram (kg). Sedangkan harga pokok produksi (HPP) sudah tembus di angka Rp 18.500 per kg. Agar tidak terus jadi penyumbang inflasi, TPID Surakarta berharap persoalan di tingkat peternak segera terselesaikan.

Kepala Tim Advisory dan Pengembangan Ekonomi KPw BI Surakarta M. Taufik Amrozy menyampaikan, harga telur dan daging ayam ras cukup tinggi. Kondisi ini mempengaruhi laju inflasi. Seperti halnya saat Ramadan dan Lebaran kemarin.

”Saya kira perlu dibangun komunikasi yang baik untuk menyelesaikan permasalahan ini. Seperti yang terus digaungkan TPID mengenai 4K. Komunikasi menjadi hal yang penting untuk mewujudkan 4K yang lainnya. Para peternak ayam, tokoh masyarakat, dan pemerintah daerah harus duduk bersama,” terang Taufik kepada Jawa Pos Radar Solo usai rapat koordinasi.

Hadir dalam rakor, Asisten Ekonomi Pembangunan Sekda Boyolali Widodo Munir. Dia menyebut masalah lain yang dihadapi peternak, yakni penolakan dari masyarakat sekitar kandang ayam. Karena bau dan limbah yang ditimbulkan.

”Peternak mungkin bisa membeli lahan sesuai dengan rencana tata ruang wilayah atau RTRW. Tetapi kalau sudah banyak yang menolak, persoalannya semakin rumit,” sambung Widodo. 

Ditambahkannya, masalah bau dan limbah sejatinya bisa direduksi. Jika peternak sanggup membeli alat pengolahan limbah yang harganya mahal. ”Namun, kondisinya berbeda sekarang. Bagi peternak biasa atau sederhana, itu memberatkan. Jika tidak segera dicari solusi, dampaknya akan meluas,” ujarnya

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Sukoharjo Netty Harjianti menyebut gejolak juga terjadi di wilayahnya. Hanya saja, peternak di Sukoharjo sudah mulai sadar akan bau dan limbah yang dihasilkan.

”Di Sukoharjo tidak sampai terjadi pemogokan atau hal besar lainnya. Karena peternak dengan skala besar sudah sadar untuk mengolah limbah. Bahkan juga membuat pupuk kandang. Untuk peternak skala kecil dan menengah, sudah ada pendampingan dari dinas,” bebernya. (gis/fer)

(rs/gis/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia