Minggu, 21 Jul 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Masjid Sriwedari Buka Donatur dari Luar Negeri 

20 Juni 2019, 11: 10: 59 WIB | editor : Perdana

TERUS BERLANJUT: Panitia pembangunan MTTS terus bergerilya cari dana.

TERUS BERLANJUT: Panitia pembangunan MTTS terus bergerilya cari dana. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO - Panitia pembangunan Masjid Taman Sriwedari Surakarta (MTSS) akan menggalang bantuan dari siapapun termasuk donatur luar negeri. Upaya itu dilakukan untuk menutup defisit anggaran yang berakibat pembangunan tersendat.

Ketua Panitia Pembangunan MTSS Achmad Purnomo meminta seluruh pihak yang memiliki relasi dengan lembaga atau organisasi donor dari luar negeri untuk segera menyampaikan ke panitia. Pihaknya siap menerima seluruh masukan terkait calon donatur MTSS.

“Daripada menunggu BUMN (Badan Usaha Milik Negara) yang dulu telah menjanjikan dana tapi sekarang belum terlaksana, siapa tahu bisa dibantu dari luar negeri. Kalau bapak ibu punya jalur, pengalaman, cerita-cerita atau apa saja mohon dikomunikasikan dengan panitia,” kata pria yang juga wakil wali Kota Surakarta ini, Rabu (19/6).

Donasi dari luar negeri, lanjutnya, akan menjadi salah satu solusi seretnya penghimpunan dana pembangunan MTSS selama ini. Meski begitu, pihaknya akan terus bergerilya mendapatkan donasi dari berbagai pihak yang selama ini telah memberi komitmen.

“Kami panitia semua tetap semangat. Mudah-mudahan dengan semangat baru, CSR-CSR baru, bantuan BUMN, BUMD serta donasi dari masyarakat sedikit demi sedikit dana akan terkumpul,” imbuhnya.

Beberapa sumber dana yang merealisasikan komitmennya adalah Badan Amil dan Zakat Nasional (Baznas) Kota Surakarta, Baznas Provinsi Jawa Tengah, Bank Jateng, hingga aparatur sipil negara (ASN) Pemkot Surakarta. Seluruh dana yang terkumpul itu belum mampu memenuhi seluruh anggaran pembangunan MTSS sebesar Rp 165 miliar.

Sebelumnya PT Wijaya Karya (Wika) memastikan pelaksanaan proyek MTSS akan mundur dari tenggat waktu yang ditentukan. Project Manager MTSS Agung Budianto menyebut Wika telah mengeluarkan setidaknya Rp 70 miliar namun panitia baru menggelontorkan Rp 26,5 miliar. Defisit yang relatif besar itu membuat perusahaan plat merah itu memilih  melakukan perlambatan pekerjaan. (irw/bun)

(rs/irw/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia