Minggu, 21 Jul 2019
radarsolo
icon featured
Klaten

Pipanisasi Solusi Kekeringan di Lereng Merapi

20 Juni 2019, 05: 10: 59 WIB | editor : Perdana

SOLUSI JANGKA PENDEK: Petugas BPBD Klaten menyalurkan air bersih dari mobil tangki pada bak penampungan komunal di Desa Ndeles, Kecamatan Kemalang, kemarin (19/6).

SOLUSI JANGKA PENDEK: Petugas BPBD Klaten menyalurkan air bersih dari mobil tangki pada bak penampungan komunal di Desa Ndeles, Kecamatan Kemalang, kemarin (19/6). (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

KLATEN – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten terus berupaya mengatasi bencana kekeringan yang melanda setiap tahunnya. Salah satunya dengan pipanisasi. Mengambil dari sumber mata air Bebeng di Cangkringan, Kabupaten Sleman. Diharapkan upaya ini bisa mengalirkan air bersih kepada warga yang bermukim di lereng Gunung Merapi.

Kawasan lereng Merapi yang rawan kekeringan yakni di Kecamatan Kemalang. Dihuni 4.000 jiwa, tersebar di tujuh desa. Meliputi Desa Kendalsari, Talun, Sidorejo, Tlogowatu, Keputran, Balerante, dan Tegalmulyo. Kepala BPBD Klaten Sip Anwar menjelaskan, ada sejumlah alternatif untuk mengatasi bencana kekeringan. Namun, upaya ini butuh dukungan dari berbagai pihak.

”Solusi pertama, melakukan pipanisasi pada sumber mata air Bebeng. Kami suntik, lalu didistribusikan ke daerah yang rawan kekeringan dengan menggunakan pipa-pipa,” jelas Anwar kepada Jawa Pos Radar Solo di Kecamatan Kemalang, kemarin (19/6).

Mantan Camat Jatinom ini menambahkan, pipanisasi merupakan solusi yang paling ringan dibandingkan lainnya. Mengingat sumber mata airnya sudah ada. Tinggal mendistribusikannya ke kawasan kekeringan. Namun perlu disadari, sumber mata air Bebeng tidak sepenuhnya bisa memenuhi kebutuhan air bersih bagi warga di lereng Merapi.

”Alternatif kedua dengan membuat sumur dalam kalau memungkinkan. Tetapi kan belum tentu bisa langsung ketemu airnya. Maka itu perlu kerja sama dengan para ahli untuk bisa mendeteksi sumber mata air,” beber Anwar.

Membuat sumur dalam bakal menyedot anggaran cukup besar. Kesulitan lainnya, yaknbi menemukan sumber air. Butuh tahapan kajian lewat penelitian. Upaya lain yang sudah dijalani, yakni droping air bersih. Sudah dilakukan sejak 27 Mei. Mengandalkan lima truk tangki berkapasitas 5.000 liter. Setiap tangki melayani dua kali droping air bersih per hari.

”Pemerintah bisa memihaki dua truk tangki di Kecamatan Kemalang beserta anggarannya. Kami prioritaskan memberikan bantuan air bersih pada tempat ibadah. Baik masjid, gereja, maupun pura. Termasuk tempat umum seperti sekolahan,” jelas Anwar.

Bagi desa yang membutuhkan bantuan air bersih, bisa mengajukan ke pemerintah kecamatan setempat. Melalui surat permohonan. Upaya ini untuk memudahkan alur pendistribusian. ”kami siapkan anggaran Rp 200 juta untuk droping air bersih. Mencakup 800 truk tangki,” ucap Anwar.

Sementara itu, Kepala Desa (Kades) Sidorejo Gotot Winarso mengaku selama ini warganya mengandalkan air bersih dari sumber Bebeng. Program penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyrakat (Pamsimas) sudah masuk ke desanya, tetapi baru tahap penyelesaian.

”Rawan kekeringan di Deles, Petung, Bangan, Butuh, dan Ngemplak. Beberapa bak penampungan sudah ada yang kosong. Droping air bersih sudah dilakukan dua kali,” ujarnya. (ren/fer)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia